End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Evaluasi Pembelajaran

SEKOLAH BAHASA INGGRIS DI LUAR NEGERI ?

Senin, 13 April 2009 | 11:03 WIB

LTF

JAKARTA, KOMPAS.com – Memang, meskipun sedikit lebih mahal, pilihan tersebut merupakan “metode tercepat” untuk meningkatkan skil bahasa Inggris Anda. Sejak membuka mata di pagi hari hingga menjelang lelap di malam hari, Anda akan dikelilingi oleh segala hal yang serba berbahasa Inggris.

Secara alami dan otomatis, kondisi tersebut memang akan meningkatkan ketajaman Anda berbahasa. Tak hanya secara formal sesuai tren terkini tata bahasa, melainkan juga perbendaharaan kata, bahkan bahasa gaul sekali pun. Mulai dari ruang kelas, kantin, bioskop, kafe, koran, televisi, radio, dan sebagainya di sekitarnya, akan memaksa Anda berbahasa Inggris setiap waktu.

Hanya saja, tidak gampang memilih sekolah biar tidak “tekor” di kantong. Ambil contoh, saat memilih ke Inggris atau Kanada sebagai negara tujuan studi Anda, misalnya.

Beruntungnya, kehadiran internet saat ini terbuka lebar untuk Anda membuka jendela informasi mengenai segala panduan atau tuntunan memilih studi di sana. Di Indonesia pun, banyak agen pendidikan siap membantu. Untuk itulah, ada beberapa hal di bawah ini yang mungkin bisa membantu Anda sebelum memilih sekolah:
Metode dan Kurikulum

- Ketahui kurikulumnya dan buat perbandingan pilihan kurikulum dari beberapa sekolah
- Tidak ada salahnya mengetahui lebih jauh track records si pembuat kurikulum. Hal itu akan berkaitan dengan metode pembelajaran dan evaluasi yang tepat untuk mengukur perkembangan Anda sendiri di masa studi selanjutnya

Kualifikasi Guru

- Bagaimana kualifikasi calon guru Anda di sana? Tidak sedikit sekolah di sana yang memunyai guru-guru kurang berkualifikasi, yang hanya memakai buku pedoman standar

- Setinggi apa tingkat pergantian guru di sana?

- Berapa lama sudah mereka mengajar di sekolah tersebut? Dan, bagaimana kualitasnya?
- Bagaimana jika dibandingkan kualitas pengajar asing yang pernah Anda temui di sini?

Aturan Main

Adakah kebijakan yang akan membuat Anda tak pernah lepas menggunakan bahasa Inggris Anda? Perlu diingat, Anda khusus datang untuk bersekolah bahasa. Alhasil, sejatinya segala kondisi dan lingkungan sekitar yang diciptakan di tempat studi tersebut harus membuat Anda menerapkan konsep “English Day” setiap hari.

Fasilitas Pendukung

Pastikan, bahwa hal pendukung proses belajar mengajar seperti perpustakaan dan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi akan melengkapi kemampuan Anda meng-update dan meng-up grade kemampuan berbahasa Anda setiap hari. Hal ini akan terkait dengan kekinian bahasa di luar kurikulum dan menjadi pengetahuan umum tambahan Anda secara signifikan

Kisaran Biaya

Tidak sama dengan di sini, karena hitungan biaya sekolah di sana kerap memakai sistem per jam, baik itu menggunakan jumlah jam per minggu atau jumlah kelas per minggu. Sebutlah contohnya, program yang menawarkan 20 jam per minggu dengan rate biaya sekitar $300 ($15 per jam). Tentunya, kisaran biaya ini lebih murah ketimbang program yang menawarkan 20 kelas per minggu.

Biaya yang ditawarkan, misalnya, untuk program 20 kelas per minggu itu sebesar $275. Bandingkan, jika lamanya waktu belajar untuk satu kelas adalah 45 menit, terhitung biaya per jam yang harus Anda bayarkan adalah sebesar $18.33. Terhitung, biaya sekolah Anda jadi lebih mahal sekitar $3 per jam.

Memang, $3 per jam bukan jumlah besar.Tetapi jangan terbuai, karena kesan itulah yang biasanya muncul pertama kali. Karena jika mau lebih dicermati lagi, semisal kalikan selisih biaya tersebut dengan waktu studi Anda selama 6 bulan, tak pelak jumlah tersebut akan cukup besar memengaruhi pengeluaran Anda.

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

MODEL EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS SMA

SUHURI. Model Evaluasi Pembelajaran Bahasa Inggris SMA. Disertasi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2008.

Upaya untuk mengevaluasi pembelajaran bahasa Inggris selama ini telah dilaksanakan tetapi belum secara keseluruhan. Hasil pembelajaran bahasa Inggris dievaluasi secara terpisah dengan proses pembelajaran bahasa Inggris sehingga hambatan dan penyebabnya yang dihadapi oleh guru bahasa Inggris dalam mengelola aktivitas pembelajaran di dalam kelas belum terungkap secara keseluruhan. Karena itu, proses dan output pembelajaran bahasa Inggris sangat perlu dievaluasi dalam satu kesatuan. Berdasarkan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk membangun sebuah model evaluasi pembelajaran yang dapat memberikan informasi bagi pimpinan sekolah dan guru bahasa Inggris, baik dari segi isi, cakupan, format maupun waktu penyampaian, serta bermanfaat bagi pembelajaran bahasa Inggris di jenjang SMA.

Subjek coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3 (tiga) SMA dari 20 SMA negeri di Palembang. Setiap SMA dipilih satu kelas yaitu kelas XII. Subjek coba dalam penelitian ini mencakup siswa, teman sejawat guru bahasa Inggris, guru bahasa Inggris yang mengajar di kelas tersebut, dan pimpinan sekolah. Model evaluasi pembelajaran bahasa Inggris (EPBI) dikembangkan melalui tiga tahap, yaitu ujicoba pertama, ujicoba kedua, dan ujicoba tahap ketiga (implementasi). Untuk menjaring data yang diperlukan, peneliti menggunakan test, angket, dan observasi. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis data. Confirmatory factor analysis (CFA) digunakan untuk menguji kecocokan model pengukuran. Structural equation modeling (SEM) digunakan untuk menganalisis kecocokan model evaluasi. Keduanya menggunakan LISREL 8.51 untuk menganalisis data. Kecocokan model, baik model pengukuran maupun model evaluasi, menggunakan kriteria: 1) nilai muatan faktor (λ) > 0,3; 2) Probabilitas atau P-value > 0,05; dan 3) Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) < 0,05; Goodness of Fit Index (GFI) > 0,9.

Hasil analisis data penelitian pengembangan ini dapat disimpulkan sebagai berikut. 1) Model EPBI dinilai sebagai model yang baik untuk mengevaluasi pembelajaran bahasa Inggris di SMA. Hal ini didasarkan pada hasil penilaian para pakar, pemakai (user), maupun praktisi pembelajaran bahasa Inggris serta hasil analisis dengan program LISREL 8.51 yang menunjukkan adanya kesesuaian antara model hipotetis EPBI dengan data lapangan (P-value = 0, 72541 > 0,05; RMSEA = 0,000 < 0,05; GFI = 1,70 > 0,9; AGFI = 1,43 > 0,9; PGFI = 1,37 > 0,9); 2) Model pengukuran proses pembelajaran bahasa Inggris sudah sesuai dengan data lapangan (semua nilai mutan factor, λ > 0,3; P-Value = 0,44929 > 0,05; RMSEA = 0,00000 < 0,05); 3) Model pengukuran output pembelajaran bahasa Inggris sudah sesuai dengan data lapangan (semua nilai muatan faktor (λ) > 0,3, P-value=0.72541,  RMSEA =0,000); dan Hasil penilaian pakar, pemakai (user) dan praktisi menunjukkan bahwa panduan evaluasi model EPBI baik digunakan sebagai acuan implementasi model di lapangan; 4) Model EPBI bermanfaat untuk menentukan nilai, kekuatan, dan kelemahan pembelajaran yang ditujukan untuk merevisi pembelajaran guna meningkatkan daya tarik dan efektivitasnya.

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

BANDING PEMERINTAH SOAL UJIAN NASIOANAL DITOLAK

Senin, 14 April 2008 | 18:19 WIB

Yulvianus Harjono

BANDUNG, SENIN- Banding pemerintah atas Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ditolak. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memperkuat isi putusan PN Jakpus yang mengabulkan gugatan warga negara atau citizen law suit mengenai ujian nasional.

Informasi ini disampaikan Wakil Koordinator Education Forum Yanti Sri Yulianti, selaku salah satu pihak penggugat, dihubungi di Jakarta, Senin (14/4 ) sore. Gugatan citizen law suit atas ujain nasional dilayangkan sejumlah lembaga dan kelompok masyarakat yang tergabung dalam Education Forum.

Ia mengaku puas atas hasil putusan itu. Sejak lama putusan itu dinanti-nanti. Hanya, ia mempermasalahkan kenapa pemberitahuan itu baru muncul. Padahal, telah diputuskan sejak akhir tahun lalu. Ia curiga hal itu dilakukan agar hasil putusan tidak mempengaruhi pelaksanaan ujian nasional yang kian dekat .

Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta itu bernomor 377/PDT/2007 tertanggal 6 Desember 2007 . Jika dalam 15 hari ini tidak ditanggapi, putusan itu berkekuatan hukum tetap. Pelaksanaan ujian nasional ke depan akan dianggap melawan hukum jika tidak didahului evaluasi kualitas guru, akses informasi dan pemerataan sarana prasarana pendidikan.(JON)

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

GURU ADU KREATIVITAS GUNAKAN TEKNOLOGI

Rabu, 23 Juli 2008 | 09:56 WIB

LIN

sumber: kompas

YOGYAKARTA, RABU – Tiga puluh guru dari seluruh wilayah Indonesia akan mengadu daya kreativitas penggunaan teknologi untuk menyampaikan materi pelajaran di ruang kelas dalam Lomba Guru Inovatif Nasional 2008.

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Microsoft Indonesia di Yogyakarta, 23-25 Juli 2008. “Yang jadi fokus adalah pemanfaatan IT dalam proses pengajaran, terlepas dari penggunaan produk apa yang dipakai,” ujar Ananta sebelum pembukaan lomba ini di Yogyakarta, Rabu (23/7).

Pemanfaatan teknologi informasi dalam proses belajar-mengajar tentunya dapat memberikan makna yang lebih dalam memperbaharui cara belajar anak didik dan mempersiapkannya menghadapi tantangan dunia global. Garda depannya adalah para guru.

Ananta mengatakan sebelumnya 300 orang guru mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi ini. Mereka mengirimkan hasil penelitian tindakan kelas yang mereka lakukan. “Itu berasal dari kalau mereka memiliki masalah dalam penyampaian, nanti mereka uji lagi dari awal sampai akhir untuk memperbaiki metode pengajaran dan promosi kenaikan pangkat,” ujar Ananta.

Dari 300 orang, Microsoft memilih 30 orang yang kemudian mengikuti workshop tiga hari dan kompetisi di Yogyakarta saat ini untuk dipilih menjadi sepuluh orang yang akan dikirim dalam kompetisi yang sama di tingkat Asia-Pasifik pada Maret 2009. Berbeda dengan tahun sebelumnya, mekanisme pemilihan sepuluh orang ini didasarkan pada sepuluh regional.

“Guru-guru di daerah suka merasa khawatir bersaing dengan guru Jawa karena lebih pintar dan memang ada perbedaan. Kami menyadari hal tersebut dan kami mengharapkan ada keterwakilan dari masing-masing daerah yang akan berangkat,” ujar Ananta.

Namun, yang terpenting menurut Ananta adalah tujuan untuk mempertemukan para guru untuk saling belajar dan memberikan inspirasi sehingga visi pendidikan dapat tercapai. “Sehingga mereka dapat membawa pulang manfaatnya dan membagikan kepada anak didik mereka,” tandas Ananta.

Lomba Guru Inovatif diselenggarakan sejak tahun 2004, setelah sempat absen di tahun 2006. Lomba ini merupakan bagian program Microsoft sebagai partners in learning berdasarkan MoU yang ditandatangani bersama Depdiknas sejak tahun 2003 dan tahun ini diperpanjang hinggan 2013. (LIN)

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

EROPA BANTU PENDDIDIKAN DASAR DI INDONESIA

Kamis, 24 Juli 2008 | 22:44 WIB

ELN

sumber: kompas

JAKARTA, KAMIS – Indonesia mendapatkan dana hibah untuk pengembangan Program Kapasitas Pendidikan Dasar atau Basic Education Capacity -Trust Fund (BEC-TF) dari Pemerintah Belanda dan Komisi Eropa. Dana hibah ini untuk jenis hibah peningkatan kapasitas meliputi 50 kabupaten/kota, hibah program rintisan meliputi 6 kabupaten dan 30 sekolah, serta hibah program pusat pembelajaran yang berhasil bagi 6 institusi pendidikan.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, Suyanto dalam acara sosialisasi dan workshop seleksi kabupaten kota calon penerima program  Tahun 2008-2009, di Jakarta, Kamis (24/7), mengatakan pada tahap pertama dana hibah dari Pemerintah Belanda dan Komisi Eropa  mencapai 51 juta dolar AS  atau sekitar Rp 459 miliar. Dari nilai tersebut, 33 juta dolar AS dikelola pemerintah Indonesia dan 18 juta AS dikelola Bank Dunia.

Program BEC-TF ini lebih ditujukan bagi upaya peningkatan kapasitas pemerintah daerah agar dapat meningkatkan peran dan tanggung jawabnya dalam konteks desentralisasi. Kapasitas yang dikembangkan antara lain mencakup penguatan perencanaa, manajemen keuangan, manajemen sumber daya manusia serta sistem monitoring dan evaluasi.

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

WORKSHOP EVALUASI PEMBELAJARAN BAGI GURU SMP DAN SMA

Tim Web
Wed, 15 Apr 2009 12:12:26

Salah satu bentuk kerja sama yang dilaksakan oleh LPMP Sumatera Barat adalah pelaksanaan Workshop Evaluasi Pembelajaran bagi guru SMP dan SMA kerja sama LPMP Propinsi Sumatera Barat dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Sijunjung.

Dalam manajemen mutu pendidikan, evaluasi hasil belajar merupakan salah satu unsure yang memegang peranan penting sehingga tiada satu usahapun yang dapat dilakukan dengan baik kecuali memperbaiki pelaksanaan evaluasi hasil belajar itu sendiri.  Evaluasi hasil belajar peserta didik dapat juga digunakan sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan sehingga sistem evaluasi hasil belajar peserta didik di sekolah perlu dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Sistem evaluasi menurut UU No. 20 Tahun 2003 dilakukan untuk memantau tingkat ketercapaian standar nasional tentang kompetensi lulusan yang dilakukan oleh badan standarisasi, penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan.  Kegiatan evaluasi untuk pengendalian mutu dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga yang dibentuk oleh masyarakat atau organisasi mandiri.  Dan menurut pasal 58 UU No. 20 Tahun 2003 mengungkap pelaksanaan kegiatan evaluasi, yaitu sebagai berikut:

  1. Evaluasi belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik, untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
  2. Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan dari program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala dan menyeluruh, transparan dan sistematis, untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.

Selanjutnya dalam peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2005 dinyatakan bahwa salah satu pelaksana untuk melakukan penilaian hasil belajar peserta didik adalah pendidik itu sendiri. Memperhatikan sistem evaluasi menurut aturan yang tertera di atas dan sabagai implementasi, maka LPMP Propinsi Sumatera Barat akan menyelenggarkan Workshop Evaluasi Pembelajaran bagi Guru SMP dan SMA negeri dan swasta yang ada di Propinsi Sumatera Barat yang difokuskan pada penilaian hasil pembelajaran atau penilaian hasil belajar peserta didik.  Dengan harapan, penguasaan kompetensi penilaian hasil belajar didik oleg guru-guru SMP dan SMA akan berdampak terhadap perbaikan dan peningkatan hasil belajar peserta didik.

Kegiatan workshop ini berlangsung selama 3 hari dimulai tanggal 11 s.d 13 April 2009, dan dibuka secara resmi oleh Kepala LPMP Sumatera Barat Prof. Dr. M. Zaim, M. Hum pada tanggal 11 April 2009 pukul 11.00 WIB bertempat Aula LPMP Sumatera Barat.  Peserta kegiatan ini sebanyak 40 orang guru SMP dan SMA Kabupaten Sijunjung.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah:

  1. Dapat memahami Kebijakan Depdiknas tentang system penilaian hasil belajar peserta didik.
  2. Dapat menjelaskan sistem penilaian hasil belajar peserta didik yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  3. Dapat melakukan bedah/analisis kurikulum yang berlaku.
  4. Dapat melakukan praktik penyusunan kisi-kisi tes dan penulisan butir soal sesuai dengan mata pelajaran yang dibinanya.
  5. Dapat mengembangkan butir soal sesuai dengan kisi-kisi tes dan kaidah penulisan soal.
  6. Dapat melakukan penelaahan dan perbaikan butir soal serta perakitan butir soal menjadi naskah tes.
  7. Dapat memanfaatkan komputer dalam pengolahan data hasil peserta didik
  8. Dapat melakukan analisis dan tindak lanjut penilaian hasil belajar peserta didik sesuai dengan Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM).

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | 1 Komentar

Evaluasi Pembelajaran

STANDAR UN DINAIKAN, SEJUMLAH GURU MENGAKU TIDAK SANGGUP

Senin, 14 April 2008 | 20:24 WIB

Madina Nusrat

PURBALINGGA, SENIN-Sejumlah guru sekolah menengah atas di Purbalingga dan Banyumas mengaku tak sanggup untuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian nasional yang akan diselenggarakan 22 April mendatang. Hal itu menyusul naiknya standar UN dari 5,00 menjadi 5,25 ditambah dengan bobot soal yang cukup sulit.

Prasetyo, guru SMA Negeri 1 Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, Senin (14/4), mengaku, tak hanya siswa yan g pusing menghadapi UN kali ini, para guru juga dibuat pusing. Terlebih lagi, jumlah mata pelajaran yang diujikan dalam UN, bertambah dari empat mata pelajaran menjadi enam mata pelajaran.

Pelaksanaan UN, menurutnya, juga lebih cepat satu bulan dibandingkan tahun lalu yang diselenggarakan pada bulan Mei. Akibatnya, guru harus memadatkan mata pelajaran. “Karena dengan dimajukannya pelaksanaan UN pada bulan April ini, proses belajar mengajar satu semester hanya efektif berlangsung selama lima bulan,” tuturnya.

Karenanya, dia mengaku pesimistis dapat mempersiapkan siswanya agar bisa lulus UN seluruhnya pada tahun ini. Tahun kemarin saja, ada 80 siswa dari 140 siswa di sekolah kami yang tidak lulus. “Bagaimana dengan sekarang,” ujarnya.

Salah seorang pengurus Forum Interaksi Guru Banyumas, Agus Wahyudi, juga mengakui hal yang sama. Menurutnya, hampir seluruh SMA yang berada diluar Kota Purwokerto belum siap menghadapi UN tahun ini dengan standar yang terlampau tinggi. Contohnya pada tahun 2007, 25 persen sisw a SMA di Kecamatan Patikraja dan Rawalo tak lulus UN.

Sudah banyak guru SMA yang mengeluh dengan standar UN sekarang ini, terutama untuk SMA negeri yang berada di pinggiran kota maupun swasta. Mereka belum mampu karena kapasitas siswanya sendiri pun terba tas. “Hal itu sangat terlihat dari standar nem (nilai evaluasi murid) siswa yang masuk ke sekolah itu,” tuturnya.

Meningkatnya standar kelulusan UN, lanjut Agus yang juga guru di SMA Negeri 1 Purwokerto, juga tak hanya membuat sulit guru dan siswa, melainkan juga orang tua siswa. Dengan standar kelulusan yang dinaikkan, para orang tua siswa pun harus mengeluarkan biaya lagi untuk meleskan anaknya di bimbingan belajar. “Biayanya untuk ini, tentu saja tidak sedikit,” ucapnya.

Agus mengatakan, sejak pertama kali pun dirinya sudah meminta kepada pemerintah agar UN ditiadakan. Penerapan UN sama saja bertentangan dengan nilai pembelajaran. Nilai pembelajaran itu kan bagaimana guru mentransformasikan pengetahuan kepada siswa, dan bagaimana siswa memahaminya. “Bukan malah siswa diwajibkan untuk mengerjakan soal-soal pilihan ganda, dan mendapat nilai,” tuturnya. (MDN)

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

GRESIK PENYELENGGARAUN PENDIDIKAN AGAMA

Jumat, 1 Mei 2009 | 15:58 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Adi Sucipto

GRESIK, KOMPAS.com — Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dan lima kabupaten lain se-Indonesia, yakni Mataram (Nusa Tenggara Timur), Singingi (Riau), Tanah Datar (Sumatera Barat), Indramayu (Jawa Barat), dan Musi Banyuasin (Sumatera Selatan) mulai tahun ini telah melaksanakan Ujian Nasional Pendidikan Agama Islam.

Pelaksanaan UN Pendidikan Agama Islam tingkat SMP di Gresik, Jumat (1/5), dipantau Direktur Pendidikan Agama Islam Direktorat Pendidikan Agama Islam Departemen Agama RI Imam Tolkha didampingi Kepala Subdirektorat Kurikulum Syafiudin dan Konsultan Dirjen Pendidikan Islam Abdul Majid, Kepala Dinas Pendidikan Gresik Chusaini Mustaz, dan Kepala Bidang Madrasah dan Pendidikan Agama Islam Pendidikan Sekolah Hartoyo.

Mereka memantau UN di SMP Negeri 1 Gresik, SMP Nahdlatul Ulama 2, dan SMP Muhammadiyah Gresik. Imam Tolkha menyatakan tujuan memantau UN Pendidikan Agama sebagai implementasi ujian lokal dan tanggung jawab ujian PAI standar UN.

Hasil pantauan akan dijadikan bahan evaluasi agar ke depan bisa dilaksanakan secara nasional dengan jumlah daerah yang lebih luas. “Tujuan penting meningkatkan pembelajaran PAI baik dari sisi kognitif dan praktik PAI dalam kehidupan sehari-hari. Saya bangga Gresik bisa laksanakan lebih awal UN PAI standar nasional,” kata Imam.

Bupati Gresik Robbach Ma’sum menyatakan, semua itu karena dukungan pelaksana pendidikan di Gresik. “Ini karena support teman-teman. Sebagai kota wali dan kota santri tidak ada salahnya konsekuensi melaksanakan UN Pendidikan Agama,” kata Robbach.

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

BELAJARMEWUJUDKAN MIMPI SEJAK BELIA


Sabtu, 3 Januari 2009 | 07:41 WIB

Oleh Nur Hidayati

Sumber : Kompas Cetak

”Suatu hari nanti aku akan membangun perusahaan penerbangan sendiri,” ujar Ridwan Zulfikar (15), siswa kelas III Madrasah Pembangunan Universitas Islam Negeri Jakarta.

Zulfikar tahu benar, jalan yang harus ditempuh untuk membangun perusahaan sendiri bakal panjang, tetapi ia yakin telah merintis jalan itu.

Sejak duduk di kelas I sekolah menengah pertama, Zul—demikian Zulfikar biasa dipanggil teman-temannya—bergabung dalam program perusahaan sekolah yang diperkenalkan Prestasi Junior Indonesia (PJI).

Jabatan Presiden Direktur Empire Student Company, begitu nama perusahaan sekolah ini, baru dilepas Zulfikar pekan lalu untuk persiapan Ujian Nasional 2009.

Zul dan kawan-kawannya mengelola perusahaan sekolah dengan modal awal Rp 250.000. Modal ini mereka dapat dari penjualan 25 lembar saham secara sukarela kepada guru dan siswa.

Masa kerja tim manajemen perusahaan sekolah ini selama satu tahun. Pada akhir masa kerja, perusahaan dilikuidasi, laba dibagi kepada pemegang saham, kemudian dibentuk lagi perusahaan baru dengan tim manajemen yang terdiri atas siswa-siswa baru pula.

”Dalam beberapa bulan operasional, perusahaan sekarang punya uang Rp 2.281.850, dengan laba bersih lebih dari satu juta rupiah,” ujar Zul.

Bukan nilai nominal itu yang menarik perhatian. Namun, kiprah siswa-siswa ini mengelola modal ternyata memberi mereka inspirasi untuk menjadi wirausaha.

Beragam kegiatan mereka lakukan, mulai dari berjualan cokelat buatan kerabat, menjual minuman pada jam istirahat di kelas-kelas di lantai atas yang cukup jauh dari kantin, hingga menyewakan alat makan dan sandal jepit untuk shalat bersama di sekolah.

Kegiatan paling seru tentu menggelar dagangan pada acara bazar, termasuk di pusat perbelanjaan.

”Sebagian barang kami jual dengan konsinyasi, kalau enggak laku dikembalikan. Ada juga yang kami beli putus. Rata-rata jualan harian atau bazar laku banget. Yang lambat perkembangannya tuh penyewaan sandal jepit,” ujar Lisky Nui (14), salah satu manajer di Empire Student Company.

Siswa-siswa ini juga belajar berbisnis di lingkungan yang lebih luas dari sekolah. Empire, misalnya, pernah berdagang barang kerajinan dengan 2K6 Student Company dari Ohio, Amerika Serikat, melalui internet.

Pada akhir masa jabatannya, mereka juga membuat evaluasi bisnis. ”Perusahaan sekolah ini perlu lebih banyak mengikuti bazar, bukan hanya saat pameran pelajar, ulang tahun sekolah, atau penerimaan rapor,” ujar Lisky Nui.

Tahun depan, di sekolah menengah atas, Zulfikar sudah membayangkan tahapan berikut untuk memperkaya pengalamannya berbisnis.

”Di SMA nanti, aku akan ikut jualan multilevel marketing. Ada banyak perusahaan seperti itu yang modal awalnya enggak besar dan jualannya jelas. Kalau enggak cocok di satu perusahaan bisa ganti yang lain. Yang penting bisa sekolah sambil jualan,” ujarnya.

Transformasi

Perusahaan sekolah bukan hanya ada di Madrasah Pembangunan. Lebih dari 70 sekolah di berbagai daerah di Indonesia saat ini mengikuti program yang dipromosikan PJI ini. PJI merupakan lembaga nonprofit yang berafiliasi dengan jaringan global Junior Achievement.

Program pendidikan kewirausahaan ini ditujukan untuk siswa dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, tentu dengan model yang berbeda-beda.

”Pendidikan kewirausahaan perlu dipelajari dari kanak-kanak. Di situ ada nilai kejujuran, inisiatif, kepercayaan diri, kemampuan memimpin, dan bekerja sama yang ditanamkan,” ujar Direktur Eksekutif PJI Marzuki Darusman.

Marzuki mencontohkan, perusahaan sekolah memunculkan transformasi diri bagi siswa-siswa sekolah menengah di Kutai Timur, Kalimantan Timur, misalnya, ketika mereka bisa menjual dodol salak kepada siswa sekolah menengah di Boston, AS.

Ada juga siswa sekolah yang memenangi kompetisi penyusunan rencana bisnis di Dublin, Irlandia.

Pelajaran berbisnis sejak belia bukanlah ”promosi” materialistis. Kewirausahaan justru mendorong seseorang menggali potensi diri dan lingkungannya serta berani berkreasi mengembangkan potensi itu.

Kemampuan tersebut bukan saja berguna bagi kalangan pebisnis. Kalangan birokrat juga perlu memiliki jiwa kewirausahaan agar ekonomi negara bisa maju tanpa korupsi.

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN

Oleh: Ardiani Mustikasari, S. Si, M. Pd

Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran, karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:
a. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses
b. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru

A. EVALUASI DIRI
Evalusi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan secara mandiri. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam jurnal refleksi pembelajaran. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai guru
Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran, seperti:
• Apa yang saya ajarkan hari ini?
• Apa yang masih membingunkan bagi siswa?
• Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan?
• Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan?
• Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan?
• Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan?
• Apakah saya telah membelajarkan siswa?
• Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran?
• Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi?
• Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo, websites, dll)?
• Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai?

B. EVALUASI KOLABORATIF
Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif. Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa.

C. DOKUMENTASI PROSES PEMBELAJARAN
Dalam evaluasi proses pembelajaran, yang perlu diperhatikan juga adalah mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. Hal-hal yang perlu didokumentasikan adalah:
1. dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
2. dokumen hasil diskusi, kliping, laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar
3. dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumber-sumber belajar
4. dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan, mengakses internet, kelompok ilmiah remaja, kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris, bahasa arab, bahasa jepang, bahasa mandarin, bahasa perancis, dan lain-lain), mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum, kebun raya, pusat industri, dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar
5. dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi, daur ulang sampah, kunjungan ke laboratorium alam, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab
6. dokumen kegiatan pekan bahasa, seni dan budaya, pentas seni, pameran lukisan, teater, latihan tari, latihan musik, ketrampilan membuat barang seni, karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya
7. dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan, konser musik, pagelaran tari, musik, drama, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya
8. dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas, tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif.
9. dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama, peringatan hari-hari besar agama, membantu warga sekolah yang memerlukan
10. dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa, seperti: hasil portofolio, buletin siswa, majalah dinding, laporan penulisan karya tulis, laporan kunjungan lapangan, dan lain-lain
11. dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.