End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Evaluasi Pembelajaran

BACA SENYAP DAN SARAPAN PAGI, KHAS ANAK-ANAK SD SANGGAU

Senin, 22 Desember 2008 | 22:33 WIB

MUNGKIN belum banyak masyarakat Indonesia — di luar pulau Kalimantan, yang mengenal Kabupaten Sanggau, di Provinsi Kalimantan Barat. Kecuali bagi pencari kerja (tenaga kerja Indonesia) yang ingin melintas batas menuju negara tetangga Malaysia, Sanggau mungkin salah satu daerah yang tak asing lagi.

Atau daerah berpenduduk 377.199 jiwa (tahun 2006) ini sempat mencuat ketika terjadi kasus kerusuhan sosial Maret 1999 yang menelan korban ratusan jiwa meninggal dan ribuan rumah dibakar.

Untuk ingin tahu kondisi dan situasi Sanggau, khususnya di bidang pendidikan, Kompas harus menempuh perjalanan darat dari Pontianak, Ibukota Provinsi Kalimantan Barat, ke Sanggau sejauh lebih kurang 280 km, dengan waktu tempuh tercepat 5 jam dengan rute Pontianak-Tayan-Sanggau, atau 6 jam dengan rute Pontianak-Ngabang-Sanggau. Sekitar 30 km jalan, masih berupa tanah liat dengan sedikit pengerasan dengan kerikil. Karena musim hujan, ada banyak bagian jalan yang digenangi air dan berlubang-lubang bagai kubangan kerbau.

Di kiri-kanan jalan yang sepi dari rumah-rumah penduduk, masih terdapat banyak tumpukan kayu berbagai diameter dan satu-dua tempat penggergajian kayu. Kondisi itu mencerminkan betapa hutan Kalimantan terus dirambah. Masih terus berlangsung pembiaran penebangan hutan, di daerah seluas 18.302 kilometer persegi yang 65 persen wilayahnya berupa hutan. Kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan kelestarian hutan, jelas belum terlihat.

Lain halnya dengan pendidikan. Pada awalnya minat anak, murid-murid sekolah dasar (SD) mengikuti pelajaran di sekolah, rendah. Tingkat DO (drop out ) murid SD cukup besar/tinggi. Lalu, jamak dengan persoalan pendidikan di daerah terpencil lainnya, kekurangan guru, keterbatasan kapasitas tenaga guru dalam mengembangkan metoda belajar-mengajar yang merangsang minat belajar anak. Juga keterbatasan guru untuk mengakses informasi metoda belajar-mengajar yang menyenangkan bagi anak.

Kondisi memprihatinkan ini dengan cerdas terbaca oleh World Vision Indonesia, lembaga kemanusiaan Kristen, yang sudah sejak tahun 1960 berpengalaman melayani anak-anak, keluarga, dan masyarakat miskin untuk mencapai potensi terbaik mereka dengan menangani penyebab kemiskinan dan ketidakadilan.

“Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, merupakan salah satu dari 10 provinsi yang mendapat bantuan dan pelayanan dari World Vision Indonesia. Ada 40 program integrasi masyarakat jangka panjang yang disebut Area Development Programs (ADP) yang tersebar di 34 kabupaten, 123 kecamatan, dan 722 desa di 10 provinsi di Indonesia,” kata Marketing Public Relation Manager World Vision Indonesia, John Nelawan , Sabtu pekan lalu.

Dari enam proyek World Vision Indonesia di ADP Sanggau, salah satunya di bidang pendidikan adalah child sstudy performance. Berdasarkan evaluasi, ada beberapa kerentanan utama dalam masyarakat, salah satunya pendidikan rendah, di mana 3,5 persen usia wajib belajar tidak bersekolah, sedangkan 41,8 persen hanya menempuh sekolah dasar. Di wilayah program ADB Sanggau, sebanyak 12,05 persen kepala keluarga hidup di bawah garis kemiskinan, tandasnya.

Apa yang diperbuat ADP Sanggau?

Berawal dari keprihatinan melihat kondisi pendidikan, World Vision Indonesia tahun 2005 mengembangkan satu proyek percontohan yang diberi nama metoda PAKEM, singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan melalui Kalimantan Education Enhancement Program, di SD Negeri Nomor 20 Kecamatan Balai Batangtarang, Kabupaten Sanggau.

“Tujuan program adalah untuk meningkatkan kreativitas guru SD dalam mengembangkan metode belajar-mengajar yang menyenangkan bagi murid-murid SD, mengurangi angka DO murid SD di wilayah dampingan. Meningkatkan prestasi belajar anak dan meningkatkan jumlah anak/murid SD yang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP,” kata Manager of ADP Sanggar, I Made Sukariata.

Untuk itu, semua guru SDN 20 Balai Batangtarang diberikan pelatihan PAKEM. Usai pelatihan, aplikasi di lapangan pun dilakukan. Makanya, jangan heran, jika berkunjung ke SDN 20 Balai Batangtarang, di dinding sekolah terpajang kalimat; Pelaksanaan PAKEM perpusat pada anak.

Guru membuat persiapan matang. Hasilnya? Sebelum bicara hasil, mari kita cermati apa yang terjadi di SDN 20 Balai Batangtarang. Berkunjung ke sekolah yang berada 115 km timur Kota Pontianak ini, mungkin kekaguman yang bakal muncul. Kenapa tidak, walau jauh di pelosok desa, mereka sebelum jam pelajaran dimulai sudah terbiasa dengan kegiatan Baca Senyap , sebuah kegiatan positif yang barangkali, jarang dilakukan di SD mana pun di Indonesia.

Dalam Baca Senyap, sebelum lonceng masuk pelajaran dimulai, semua murid sibuk membaca buku-buku kesukaannya. Sebuah kesadaran yang terus dipupuk dalam metoda PAKEM. Buku-buku untuk bacaan murid-murid bertumpuk di bagian tengah ruangan, tergeletak di atas empat meja yang dirapatkan.

Dalam desain leter U anak-anak duduk mengelompok, satu kelompok terdiri dari 4 atau lima orang. Dalam membaca senyap, yang ada hanya keheningan. Karena membaca dalam hati, makanya kegiatan ini mereka namakan membaca senyap. Pada kegiatan berikutnya, Sarapan Pagi , anak-anak mengerjakan soal-soal. Usai itu baru mereka mendiskusikan jawabannya. Hasil pekerjaan mereka diperiksa oleh teman satu kelompok. Sedang guru memantau bagaimana diskusi antar kelompok. Kegiatan Baca Senyap dan Sarapan Pagi ini berlangsung 10-15 menit sebelum jam pelajaran dimulai.

Mengamati ruang kelas, di dalam jepitan yang terpasang dinding tertera hasil-hasil bacaan masing-masing murid di rumah, dalam bahasa mereka sendiri, tentang apa saja. Yang suka mengarang, menuliskan hasil karangannya. Yang suka matematika menuliskan pengerjaan soal-soal. Yang suka ilmu pengetahuan alam, menuliskan hasil bacaan atau pengamatannya, antara lain tentang jenis satwa yang mereka temukan di ladang orangtuanya. Unik dan kreatif.

Di sini kreativitas anak ditumbuhkembangkan. Dan apa yang mereka lakukan, bukan paksaan, tapi kesadaran dan kemauan mereka sendiri, kata Teguh Karyadi, Kepala SDN 20 Balai Batangtarang. Pengetahuan anak-anak jadi luas dan mentalnya anak menjadi bagus.

Pada dinding samping pintu masuk, tertera puluhan jenis-jenis pelanggaran yang disertai dengan sanksinya. Semuanya dirumuskan oleh murid-murid SD, masing-masing kelas. Misalnya berbuat amoral atau berzina, hukumnya dikeluarkan dari sekolah. Sebuah pembelajaran tentang tanggung jawab dan kejujuran dalam bersikap, serta disiplin diri sendiri.

Budaya bersih mereka wujudkan setiap pagi dengan memungut sampah yang ditemui di halaman sekolah. Dengan metoda PAKEM yang digalakkan dengan pendampingan World Vision Indonesia, kesadaran anak-anak begitu tinggi. “Tak mau kalah dengan teman yang lain. Jam 04.00 WIB subuh anak-anak sudah bangun dan minta dihidupkan genset. Anak mandi dan kemudian belajar,” cerita orangtua murid dari Bella Safira, kelas VI.

Ketua Komite Sekolah, Philipus, mengakui bahwa metode PAKEM yang dikembangkan sejak tahun 2005 di SDN 20 Balai Batangtarang, banyak membawa perubahan. Mental dan prestasi anak menjadi bagus. Kreativitas anak meningkat. Walau mereka dari lulusan SD di desa, 75 km dari ibukota kabupaten, namun bisa bersaing dengan lulusan SD lain di kota untuk bisa sekolah di SMP terbaik di Pontianak, katanya.

Metode PAKEM Meluas

Jika disimpulkan, dalam metode PAKEM itu murid terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Murid aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi murid. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. Dan guru mendorong murid untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan murid dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Dari satu SD yang jadi proyek percontohan metoda PAKEM, kini sudah berkembang ke 12 SD lainnya dari 31 SD yang ada di Kecamatan Batangtarang dan Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sanggau. Pasalnya, kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Nasional di Kecamatan Batangtarang, Leonardus Ius, hasil metode PAKEM begitu nyata dan diakui orangtua.

“Anak-anak lulus 100 persen, nilai tertinggi matematika 9,25. Bahkan, SDN 20 Balai Batangtarang, menjadi satu-satunya SD yang telah berstandar nasional Kecamatan Batangtarang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dari 15 kecamatan di Kabupaten Sanggau, baru dua kecamatan yang melaksanakan PAKEM, yaitu Kecamatan Balai Batangtarang dan Kecamatan Nanga Mahap,” kata Leonardus.

Menurut Marketing Public Relation Manager World Vision Indonesia, John Nelwan, keberhasilan implementasi metoda PAKEM pada program ADP Sanggau, juga karena didukung program lainnya sepanjang tahun 1996-2008. Jadi tidak hanya sebatas memberikan pelatihan PAKEM dan manajemen berbasis sekolah kepada guru-guru, tetapi juga membantu subsidi SPP, perbaikan atap/rehab sekolah, bantuan paket buku dan alat peraga, bantuan LCD untuk Kelompok Kerja Guru. Bantuan meja-kursi untuk SD, pembangunan pagar sekolah, pembangunan gedung belajar untuk SD mini, pengadaan guru honoi untuk SD dan SMP, honor untuk pendamping kelompok baca, dan studi banding antarsekolah.

Didampingi Manager of ADP Sanggau I Made Sukariata dan Monitoring and Evaluation Coordinator World Vision Indonesia Cahyo Prihadi, John Nelwan menjelaskan, dari evaluasi dan laporan pihak terkait, dengan metoda PAKEM menyebabkan terjadi perubahan minat anak untuk ke sekolah. Anak-anak semakin tertarik untuk sekolah. Nilai dan angka kelulusan anak terus meningkat.

Dengan metoda PAKEM, memampukan guru lebih kreatif dalam mengajar. Terbentuknya kelompok kerja guru untuk bertukar pengalaman. Kini pengembangan metoda PAKEM telah diambil alih oleh Dinas Pendidikan Nasional.”Keberhasilan metode PAKEM di SDN 20 telah menghadirkan SD replikasi. World Vision Indonesia memastikan metoda ini tetap berlangsung di tiap sekolah yang dibina,” jelas John.

Keberhasilan metoda PAKEM dengan pendampingan dari ADP Sanggau ini, perlu ditularkan ke sekolah-sekolah dasar lain di Kalimantan Barat, bahkan lebih luas Indonesia. SD terpencil, ternyata juga bisa jadi contoh!
Yurnaldi

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

INOVASI MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN

by sf.lussy on Feb 23, ’08 2:35 PM

Pengajar, desain pembelajaran, dan peserta didik adalah 3 (tiga) hal yang selalu disebut saat kita ingin berbicara tentang proses pembelajaran. Mengapa demikian ? karena sesungguhnya 3 (tiga) hal tersebutlah yang menjadi motor dalam pergerakan sebuah roda pembelajaran.

Pengajar disini dapat diartikan secara luas, apalagi dalam era internetisasi saat ini. Salah satu dampak yang ditimbulkannya pada dunia pendidikan adalah munculnya metode-metode pembelajaran secara elektronik (elearning atau online learning). Hal tersebut akhirnya berimbas pada cara guru dalam menyampaikan atau membahasakan materi di kelas, dari yang sebelumnya bertutur atau lisan menjadi tulisan. Namun demikian, peran guru atau pengajar di kelas tidak dapat tergantikan karena tidak semua peserta didik mampu belajar dan memahami materi secara mandiri. Untuk mengatasinya adalah dengan cara memblend antara metode klasikal dan elektronik (adanya hybrid instruction).

Menurut Gagne, Briggs, & Wager (dalam Prawiradilaga, 2007) desain pembelajaran membantu proses belajar seseorang, dimana proses belajar itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka panjang. Mereka percaya proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar, internal maupun eksternal. Tapi menurut Kemp, Morrison, & Ross (dalam Prawiradilaga, 2007) esensi disain pembelajaran mengacu pada keempat komponen inti, yaitu siswa, tujuan pembelajaran, metode, dan penilaian.

Peserta didik adalah semua individu yang menjadi audiens dalam suatu lingkup pembelajaran. Biasanya penyebutan peserta didik ini mengikuti skup/ruang lingkup dimana pembelajaran dilaksanakan, diantaranya : siswa untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa untuk jenjang pendidikan tinggi, dan peserta pelatihan untuk diklat.

Peserta didik adalah masukan mentah (raw input) dalam sebuah proses pembelajaran yang harus dithreat agar output dan outcomesnya sesuai dengan yang dicanangkan institusi (khususnya) dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya. Agar keluarannya dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman, maka sudah sepatutnya materi dan cara pembelajarannyapun disesuaikan dengan dunia nyata juga. Hal tersebut biasa dikenal dengan model pembelajaran inovatif.

Penilaianpun juga sudah melakukan terobosan atau inovasi. Terbukti, saat ini paper and pen bukanlah satu-satunya cara untuk menilai keberhasilan belajar peserta didik. Asesmen portofolio, autentik, dan lain-lain adalah sedikit dari banyak inovasi cara menilai keberhasilan peserta didik yang lebih menitikberatkan pada proses.

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

MINIM, PELATIHAN GURU DI DAERAH

Selasa, 21 April 2009 | 20:36 WIB

BIAK, KOMPAS.com – Peningkatan mutu pembelajaran yang diberikan kepada guru-guru, terutama di daerah yang jauh dari ibukota provinsi atau kabupaten/kota, dalam bentuk pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab mereka sebagai pendidik masih minim. Upaya untuk bisa meningkatkan kualitas pembelajaran dilakukan secara mandiri dengan sumber belajar yang terbatas.

“Guru-guru pasti ingin bisa meningkatkan kualitas dirinya supaya bisa menghasilkan anak-anak didik yang lebih baik. Tetapi kesempatan untuk mendpat pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan guru terbatas. Apalagi di daerah yang jauh dari kota, seringkali tidak mendapat banyak kesempatan,” kata Aqwila Musen, guru SD YPK Samber, Distrik Yendidori, Kabupaten Biak Nomfor, Selasa (21/4).

Menurut Aqwila, pelatihan yang diberikan untuk guru SD, misalnya, haruslah pendalaman untuk semua mata pelajaran yang diajarkan di SD. Pasalnya, guru SD di daerah masih menjadi guru kelas yang mengajarkan semua materi pelajaran kepada anak didik.

“Pelatihan yang diberikan kadang hanya sosialisasi untuk penyusunan kurikulum atau kebijakan baru lainnya. Itu pun biasanya dari kepala sekolah ke guru. Kebutuhan guru untuk bisa semakin menguasai bidang yang diajarkan dan mengajar dengan baik belum diberikan lewat pelatihan yang lebih fokus,” kata Aqwila.

Elieser Wabiser, guru SD YPK Dwar, Distrik Warsa, mengatakan keinginan guru di daerah untk mendapatkan pengembangan diri sangat kuat. Namun, tanpa difasilitasi dari pemerintah daerah, guru kesulitan untuk bisa terus mengembangkan diri.

“Untuk bisa sekolah S1 lagi,misalnya, tidak mudah untuk guru. Selain kondisi keuangan yang juga berat jika membiayai sendiri, di daerah terpencil tidak ada perguruan tinggi kependidikan. Kalau tidak dibukakan jalan oleh pemerintah, ya guru kesulitan. Untuk pelatihan lainnya juga, biasanya kalau ada program dari pusat saja. Tetapi seringnya guru di kota yang dipilih,” kata Elieser.

Yusuf Slamet, Kepala Seksi Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Biak Nomfur, mengakui minimnya program pelatihan atau pengembangan kualitas guru dci daeah. “Seringnya memang mengandalkan program dari pemerintah pusat. Sebab, anggaran pemerintah daerah dipakai untuk kebutuhan lain yang juga sama pentingnya,” kata Yusuf.

Kondisi guru-guru di daerah yang minim dalam pengembangan diri tersebut sejalan  dengan temuan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Independen 2008 yang dibentuk Konsorsium Sertifikasi Guru. Kenyataan ini memprihatinkan di tengah tuntutan guru yang profesional untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air.

“Guru tidak bisa lagi dibaikan. Berbicara sol guru, tidak semata-mata soal peningkatan kesejahteraan. Peningkatan mutu mereka dalam pembelajaran juga sama pentingnya. Kondisi itu bisa dicapai dengan pelatihan yang berksenimbangun dan tanpa henti untuk semua guru, termasuk yang mengajar di daerah terpencil,” kata Unifah Rosyidi Ketua Tim Monev Independen 2008 sekaligus Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia.
ELN

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

TENTANG PENDIDIKAN YANG MEMPRIHATINKAN

Senin, 20 Oktober 2008 | 02:42 WIB

SLAMET EFFENDY YUSUF

Tampaknya kegelisahan penyelenggaraan pendidikan nasional mendorong Prof Dr Soedijarto MA, seorang pakar ilmu pendidikan yang puluhan tahun teguh dan istiqomah concern pada bidang pendidikan, untuk terus berpikir mencari apa yang salah dengan sistem pendidikan nasional kita sekaligus berupaya mencari format yang paling ideal.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dan makalah disajikan dalam berbagai seminar mengenai kondisi pendidikan nasional. Buku dibuka dengan keprihatinan penulisnya betapa bangsa ini sangat jauh tertinggal dari bangsa lain. Dalam kondisi bangsa yang sering dilanda konflik, yang secara ekonomi jauh dari maju dan secara ilmu pengetahuan sangat bergantung pada dunia luar, sulit bagi Indonesia diperhitungkan dalam percaturan internasional. Bagi Prof Soedijarto, ketertinggalan ini sangat erat kaitannya dengan kepedulian pada bidang pendidikan. Terpuruknya kondisi negara-bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kondisi pendidikan nasional.

Semua negara yang kemudian menjadi negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, disusul Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, dan China, merupakan negara-negara yang memulai pembangunan dengan menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas utama. Amerika Serikat sejak Thomas Jefferson, Jerman sejak Otto von Bismarck, Britania Raya sejak King Arthur, Jepang sejak zaman Meiji. Negara maju adalah negara yang peduli pada pendidikan. Lebih lanjut ia berpendapat, belum cerdasnya kehidupan bangsa, belum majunya kebudayaan nasional, dan belum sejahteranya kehidupan rakyat, akarnya adalah masih rendahnya kualitas manusia.

Membaca uraian dan analisis Prof Soedijarto sungguh menyenangkan. Permasalahan pendidikan bangsa dipaparkan secara gamblang dengan bahasa yang mudah dipahami. Beragam topik yang dikupas dalam buku ini mencerminkan luasnya pengetahuan penulis. Kedalaman pembahasan tentu hanya dapat dicapai oleh seorang pengamat, pemerhati, pencinta, sekaligus pelaku pendidikan seperti dia. Penulis menelusup masuk ke hal-hal yang sifatnya sangat praktis, seperti karut-marutnya metode pembelajaran, salah kaprah pemaknaan ujian nasional sebagai mekanisme evaluasi pendidikan nasional; bahkan memasuki wilayah yang politis seperti memaparkan benang merah antara kegagalan sistem pendidikan nasional dan minimnya alokasi anggaran pendidikan.

Buku ini dibagi dalam lima bagian yang tematis. Pada bagian pertama, banyak diuraikan pokok-pokok pikirannya mengenai landasan dan visi pendidikan nasional. Landasan dan visi pendidikan nasional jelas tertulis dalam UUD 1945, yaitu Pancasila sebagai filsafat dasar dalam penyelenggaraan pendidikan nasional dan arahan pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Keluaran pendidikan yang diharapkan adalah lahirnya manusia-manusia Indonesia yang berkarakter, yaitu yang cerdas, religius, patriotik, humanis, dan memiliki rasa keadilan sosial yang tinggi.

Selanjutnya arahan pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menohok pada pendidikan sebagai gerakan transformasi budaya Indonesia dari tradisional dan feodalistik menjadi budaya modern, rasional, demokratis, dan berorientasi kepada ilmu pengetahuan.

Sayang alih-alih mencerdaskan kehidupan bangsa, output dari sistem pendidikan yang dirancang dan diselenggarakan negara ini justru menimbulkan masalah dalam masyarakat. Beberapa kasus-kasus yang merugikan negara dan masyarakat seperti tindakan korupsi justru sering melibatkan orang-orang cerdas di negeri ini. Ini artinya pendidikan nasional sangat jauh dari landasan serta arahan yang diinginkan.

Bagian kedua dari buku ini banyak membahas mengenai kurikulum, sistem evaluasi, tenaga pendidik, dan metode pengajaran yang ideal dan sesuai dengan landasan serta arahan pendidikan nasional. Secara umum, kemampuan sistem pendidikan nasional suatu negara dalam menghasilkan output yang dapat mendukung lahirnya negara-bangsa yang kuat adalah mutu pendidikan yang tercermin pada proses transformasi ilmu di dalamnya. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mencakup dimensi nalar/akal, nilai, dan sikap.

Di Indonesia, yang menjadi perhatian penuh pemerintah adalah dimensi nalar/akal yang belum tentu berdampak pada pengembangan kemampuan intelektual, kematangan pribadi, serta kematangan moral dan karakter. Akibatnya yang terjadi adalah pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, tetapi sedikit sekali memberikan tempat pada nilai-nilai humanistik dan hati nurani.

Transformasi ilmu

Kelebihan buku ini terletak pada kemampuan memotret pentingnya ketiga dimensi tersebut dalam proses transformasi ilmu. Dalam Planning Instruction for Adult Learner, Patricia Canton menuliskan bahwa pendidikan yang ideal, yang berbasis pada perspektif orang dewasa, merupakan proses pendidikan yang berbasis tiga hal, yaitu cognitive domain, affective domain, dan psycomotor domain.

Indonesia selama ini belum dirancang dan diselenggarakan sebagai pusat pembudayaan segala kemampuan, nilai dan sikap manusia modern, melainkan hanya diposisikan sebagai tempat mendengar, mencatat, dan menghafal. Pendidikan yang seperti ini dinilai tidak mampu membantu peserta didik mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri. Seharusnya proses pembelajaran memungkinkan peserta didik menguasai cara memperoleh pengetahuan, berkesempatan menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya dan berkesempatan berinteraksi secara aktif sehingga dapat menemukan dirinya.

Model pembelajaran seperti ini hanya dapat berlangsung dengan tenaga guru yang memadai, materi yang terpilih dan waktu yang cukup tanpa harus mengejar target ujian nasional. Evaluasi pendidikan yang berupa evaluasi hasil belajar seperti UAN tidak dapat diharapkan akan mencapai tujuan pendidikan nasional. Biasanya tingkah laku peserta didik akan dipengaruhi oleh materi yang akan diujikan. Jika yang diujikan adalah penguasaan pengetahuan yang telah dihapal, mereka hanya akan belajar materi yang akan diujikan. Akibatnya, mereka akan mengabaikan berbagai kegiatan belajar yang tidak akan diujikan, seperti belajar mengapresiasikan bakat, belajar berdemokrasi, dan berbagai proses belajar yang bermakna transformasi budaya.

Bagian ketiga adalah tulisan- tulisan beliau mengenai peranan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, dalam pembangunan bangsa. Bab ini menggambarkan tinjauan historis kemunculan institusi pendidikan universitas di berbagai negara yang selanjutnya berperan penting dalam proses pembangunan. Peran ini belum tampak pada universitas di Indonesia, terutama dalam pemecahan masalah-masalah nasional maupun internasional. Dalam buku ini disebutkan, penyebab utama ketidakmampuan universitas sebagai problem solving lagi-lagi terkait dengan metode pembelajaran.

Bagian keempat berisikan kumpulan artikel beliau mengenai pendidikan demokrasi yang dikaitkan dengan peran keluarga dan materi pendidikan. Pada bagian ini, penulis memaparkan secara apik bagaimana peranan pendidikan dalam sebuah keluarga dalam membangun negara bangsa yang demokratis.

Bagian kelima berisi tulisan- tulisan yang mengulas keterkaitan dukungan dana dan terselenggaranya sistem pendidikan nasional yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Berkaca dari negara-negara di dunia, semua negara maju mengalokasikan anggaran pendidikan yang memadai. Alokasi anggaran pendidikan Belanda adalah 7 persen dari PDB atau sekitar 37 persen dari APBN, India 5,1 persen dari PDB, Malaysia 5,2 persen dari PDB, Brunei 4,4 persen dari PDB, Vietnam 2,8 persen dari PDB, Jepang 7 persen dari PDB, dan Thailand 5 persen dari PDB. Indonesia merupakan yang terendah, hanya 1,4 persen dari PDB. Sebenarnya ketentuan tentang pembiayaan pendidikan ini telah tertulis dalam Undang-Undang Dasar. Namun, dibutuhkan komitmen yang kuat untuk melaksanakannya, menyatukan visi para founding father dengan tindakan nyata.

Ketika salah satu ”tuntutan” buku ini agar ketentuan konstitusi mengenai anggaran pendidikan dipenuhi telah disanggupi oleh pemerintah, akan segera tampak bahwa perjalanan pendidikan ke depan akan ditentukan oleh konsistensi atas landasan dan arah pendidikan yang benar sebagaimana inti buku ini.

Dalam kerangka itu, buku ini menjadi penting untuk dibaca dan dijadikan rujukan.

Slamet Effendy Yusuf Ketua Kaukus Anggota DPR untuk Anggaran Pendidikan Minimal 20 Persen

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Evaluasi Pembelajaran

Kadin Minta Evaluasi Harga BBM per Kuartal

Kamis, 6 November 2008 | 10:48 WIB

JAKARTA, KAMIS - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap pemerintah bisa mengevaluasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi per kuartal. Pemerintah tetap harus memberikan subsidi namun harganya disesuaikan dengan laju pergerakan harga minyak mentah dunia.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Energi dan Resources Dito Ganinduto mengatakan sebaiknya pemerintah melihat tren penurunan harga minyak mentah akhir-akhir ini sebagai peristiwa luar biasa, bukannya hanya peristiwa kenaikannya. “Ini untuk memudahkan pemerintah dalam melakukan penyesuaian harga BBM,” katanya di Jakarta, kemarin.

Ia mencontohkan, jika harga ICP (Indonesia Crude Price) 70 dollar AS per barrel maka BBM bisa turun Rp 800 tapi kalau nanti dalam satu kuartal ICP turun maka harganya bisa turun lagi. Dito menilai, penurunan harga BBM bersubsidi baik jenis premium maupun solar di kisaran Rp 500-800 per liter sudah cukup ideal.

Hal itu karena penurunan sebesar itu didasarkan asumsi ICP yang bisa tembus 60-70 dollar AS per barrel dan ekspektasi nilai tukar sebesar Rp 10.500.Berbeda dengan Ketua Umum Kadin Indonesia MS Hidayat. Ia menyarankan agar pemerintah menerapkan batasan harga tertentu secara fleksibel antara tarif minyak mentah dengan BBM yang dipasarkan di dalam negeri.

Hal itu sebagai pembelajaran di masyarakat agar terbiasa mengikuti gejolak harga internasional. “Kalau sektor industri, kita sudah lakukan. Saat ini kita tengah menikmati turunnya harga BBM,” katanya.
Uji Agung Santosa

Mei 30, 2009 Posted by | Evaluasi Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.