End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Manajemen Sarana dan Prasarana

OPERATOR DILARANG BERI NOMOR KE PARPOL

Kamis, 7 Agustus 2008 | 09:45 WIB

KOMPAS/AW SUBARKAH

Sumber : KONTAN

JAKARTA, KAMIS – Ini peringatan bagi para operator telepon. Jangan sekali-sekali memberikan nomor telepon pelanggan kepada partai politik (parpol). Apalagi tujuannya untuk menyalurkan isi kampanye parpol.

Itulah salah satu poin penting hasil pembahasan aturan penggunaan layanan pesan singkat atau short message service (SMS) dan sarana telekomunikasi untuk kampanye pemilihan umum (pemilu). Pemerintah dan para operator mulai membahas rancangan aturan tersebut kemarin.

Alhasil, parpol wajib menyediakan sendiri data nomor telepon yang dikirimi SMS kampanye. “Kami sudah menyelesaikan draf Peraturan Menteri soal SMS kampanye. Haram hukumnya bagi operator memberikan nomor pelanggan ke parpol,” kata Gatot S Dewa Broto, Juru Bicara Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Departemen Komunikasi dan Informatika, Rabu (6/8).

Selain larangan menyerahkan nomor pelanggan, operator wajib dan berhak menghentikan kerja sama dengan parpol jika ada pelanggaran aturan. “Pelanggaran itu bisa saja menyangkut isi kampanye yang menyeleweng,” katanya.

Bukan hanya SMS, draf rancangan Permen Kominfo itu juga menyasar ke voice (suara), internet, serta sarana dan prasarana multimedia telekomunikasi lainnya, “Aturan itu lebih luas,” ujar Gatot.

Kendati begitu, rancangan permen itu belum final. “Pada Rabu (13/8) depan, memasuki proses dengar pendapat dengan publik,” imbuhnya.

Direktur Marketing PT Indosat Guntur S Siboro mendukung larangan pemberian data pelanggan ke parpol. “Itu demi perlindungan pelanggan,” katanya. Pada dasarnya, Indosat juga tidak setuju dengan penggunaan SMS untuk kampanye. (Purwadi)

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

KAWASAN KONSERVASI BERAU TERANCAM

Selasa, 12 Mei 2009 | 17:58 WIB

Sumber: kompas

SAMARINDA, KOMPAS.com — Pemanfaatan sumber daya kelautan yang kurang lestari mengadang penyelamatan Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Padahal kawasan tersebut merupakan salah satu tempat dengan keragaman hayati kelautan terbaik di dunia.

Demikian pandangan A Syafei Sidik selaku guru besar pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, Kota Samarinda. Dia dimintai pendapat seputar persoalan KKL Berau terkait Konferensi Kelautan Dunia di Manado, Sulawesi Utara, 11-15 Mei ini.

KKL Berau seluas 1,27 juta hektar ditetapkan lewat Peraturan Bupati Berau Nomor 31 Tahun 2005. Arealnya bagian dari jantung segitiga terumbu karang yang paling beragam dan paling produktif di dunia. Menurut sejumlah penelitian, di KKL Berau terdapat 444 jenis karang keras, 872 jenis ikan, 233 jenis algae, 16 jenis rumput laut, 33 jenis bakau, dan ubur-ubur endemik yang tidak bersengat. Di sana juga tempat hidup 22 jenis mamalia laut seperti dugong dan lumba-lumba, lima dari enam jenis penyu di dunia, dan area peteluran penyu hijau terbesar se-Asia Tenggara.

Semua itu menjadikan KKL Berau dinobatkan sebagai daerah dengan kekayaan hayati terbaik ketiga di dunia. Yang terkaya ialah Kepulauan Solomon. Urutan kedua ialah Raja Ampat di Papua Barat.

Tidak lestari

Namun, menurut Syafei, banyak aktivitas yang tidak lestari, seperti penangkapan ikan dengan pukat harimau atau trawl, racun, dan bom yang merusak ekosistem, masih terjadi. Masih dijumpai pula, meskipun cukup sulit, ialah penangkapan ikan memakai bagang dengan lampu bercahaya kuat. Cahaya akan menarik ikan-ikan yang besar dan kecil mendekat sehingga mudah ditangkap. “Pemakaian bagang dengan cahaya itu mengancam kelestarian,” katanya.

Masalah lainnya ialah pengambilan telur penyu dari Pulau Sangalaki dan Pulau Semama, kawasan perlindungan satwa yang terancam punah itu. Pengawasan dilakukan oleh pemerintah dan lembaga, tetapi belum maksimal. Telur-telur penyu itu bahkan diperdagangkan secara bebas di Samarinda, sekitar 500 kilometer dari Berau. “Meskipun sudah ada operasi berkali-kali, tetapi buktinya, penjual telur penyu masih ada,” kata Syafei.

Selain itu, muncul resor-resor terutama milik pengusaha mancanegara yang terkesan eksklusif bahkan menutup peluang usaha warga setempat.

Oleh sebab itu, menurut Syafei yang ikut menyusun rencana manajemen, perlu dibentuk badan pengelola KKL Berau yang berisi unsur pemerintah dan LSM-LSM yang saat ini masih bekerja sama. Lewat badan pengelola, kerja sama antarpihak diharapkan bisa maksimal.

“Namun, untuk modal badan pengelola melangkah, perlu disusun rencana strategis KKL Berau,” kata Syafei. KKL Berau, lanjut Syafei, sebaiknya dibagi-bagi dalam zona perlindungan dan pemanfaatan terbatas. Yang untuk perlindungan seperti Sangalaki, Kakaban, Semama, dan sejumlah lokasi perairan yang penting.

Pemanfaatan untuk pariwisata sehingga menghasilkan pemasukan bagi pemerintah dan warga, lanjut Syafei, sebaiknya tidak menganut prinsip turisme massal. Pulau-pulau seperti Derawan dan Maratua sebaiknya sekadar menjadi tempat untuk berkunjung menikmati panorama dan penyelaman. Sarana dan prasarana pariwisata sebaiknya dikonsentrasikan di Tanjung Batu, di daratan Pulau Kalimantan, sekitar 30 menit berperahu cepat dari Pulau Derawan.
BRO

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

METODE KEGIATAN BELAJAR DAN MENGAJAR
YANG BERMAKNA

Banyak jalan menuju ke Roma, tapi hanya ada satu jalan menuju ke Surga, yaitu mengikuti Perintah Perintah Nya dan sunatan Rosul Nya. Begitupun dalam kegiatan KBM di sekolah sekolah, banyak konsep dan strategi yang telah dan akan dijalankan, tetapi hanya ada satu cara yang dapat menjadikan sekolah menjadi sekolah unggulan dalam proses KBM, dan menghasilkan peserta didik itu berprerstasi unggulan, yakni Manajemen yang baik. Manajemen yang baik dalam suatu lembaga pendidikan adalah :

  • Manajemen KBM ( kurikulum, perencanaan, konsep, strategi pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, pelatihan SDM, sarana & prasarana pembelajaran ).
  • Manajemen Personalia ( Peraturan, tata tertib, sarana & prasarana, tugas & tanggung jawab, kebijakan).
  • Manajemen Keuangan (operasional, maintenance, gaji, Kesejahteraan ).

Manajemen KBM, KBM yang bermakna adalah harus berfokus pada kegiatan siswa yang aktif, kreatif dan interaktif dalam KBM untuk membangun makna sampai tinkat pemahaman. Dengan demikian pendidik harus berperan selaku fasilisator di dalam KBM, dan perlu memberikan dorongan kepada siswa / murid untuk menggunakan otorita atau haknya dalam membangun gagasan dan kreatifitas. Tanggung jawab belajar tetap berada pada diri siswa, dan guru hanya bertangung jawab untuk menciptakan kondisi dan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. Keiklasan dan pendekatan secara Psikologis sangat berperan dalam membentuk situasi dan kondisi yang baik & nyaman yang dapat menimbulkan komunikasi dua arah antara Pendidik dengan Peserta Didik, dimana tujuannya adalah untuk membuka memori perserta didik agar dapat dengan mudah menerima / menyerap, memproses, menyimpan dan menerapkan informasi / ilmu yang diberikan oleh guru.
5 Prinsip Kegiatan Belajar Mengajar interaktif yang memberdayakan potensi siswa untuk dapat berperilaku kreatif.
1. Menggali Potensi Siswa
Seprti yang telah dijelaska di atas, bahwa siswa terlahir dengan memiliki 3 (tiga) potensi yang sekaligus merupakan modal dasar yaitu : potensi rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan.

a. Rasa ingin tahu.

Rasa ingin tahu tersebut terhadap suatu obyek adalah merupakan modal dasar untuk bersikap peka & kritis, di tinggkat pendidikan dasar khususnya tingkat TK s/d kelas 2 SD yang disertakan dengan Manajemen KBM yang baik ( tepat & benar ), maka dapat dikembangkan sampai tingkat pemahaman (untuk apa itu, seberapa banyak yang sudah diketahui, dan sejauh mana yang harus diketahui ).
b. Imajinasi.

Imajinasi merupakan modal dasar murid/siswa untuk bersikap kreatif dan mandiri yang dapat mengembangkan informasi / ilmu pengetahuan yang diterima sampai ketingkat pemahaman dan aplikasi.
c. Fitrah ber-Tuhan

Sementara, fitrah ber-Tuhan merupakan cikal bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan. Pengertian, kewajiban, makna dan pemahamannya dapat mencemin akhlak, ibadah, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari dengan proses dalam KBM yang baik. Sehingga makna keimanan dan taqwa kepada Allah SWT sampai pada tingkat pemahaman dan prilaku ( berucap dan berbuat) di dalam lingkungan sekolah, maupun diluar sekolah.
KBM yang aktif dan komunikatif harus dapat memfasiliatsi dan mendorong siswa untuk mengungkapkan pengalaman, pikiran, perasaan, bereksplorasi, dan berekspresi merupakan wujud upaya pengembangan potensi siswa sesuai dengan karakteristik yang diharapkan.

Di sisi lain, siswa berbeda dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. Siswa tertentu lebih mudah belajar melalui dengar-baca (auditif), siswa lain melalui melihat (visual), sementara yang lain lagi melalui bergerak (kinestetik). Oleh karena itu KBM perlu beragam sesuai karakteristik siswa tersebut. Ketika guru berceramah, hanya siswa dengan tipe auditif yang mengalami pembelajaran secara optimal. Supaya semua siswa mengalami persitiwa belajar, guru perlu menyediakan beragam pengalaman belajar.

Pada dasarnya, semua anak memiliki potensi untuk mencapai kompetensi. Kalau sampai mereka tidak mencapai kompetensi, hal itu bukan lantaran mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi lebih banyak akibat mereka tidak disediakan pengalaman belajar yang cocok dan lengkap dengan keunikan masing-masing karakteristik individu.

Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa. KBM perlu menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Artinya KBM memperhatikan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, motivasi belajar, dan latar belakang sosial siswa. KBM harus dapat mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
2. Belajar melalui Pengalaman / Berbuat
Praktek atau mengerjakan sesuatu adalah pengalaman yang berharga bagi siswa untuk mencapai sukses. Untuk itu KBM perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari atau yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari. Karena itu, semua siswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh informasi dari :

  1. Melihat, mendengar, meraba/menjamah, mencicipi, dan mencium.
  2. Dalam hal beberapa topik yang tidak mungkin disediakan pengalaman nyata, guru dapat menggantikannya dengan penyediaan model analogi atau situasi buatan dalam wujud simulasi untuk mewujudkan kreatifitas siswa.
  3. Jika hal tersebut ( poin 2 ) masih tidak juga tidak memungkinkan, sebaiknya siswa dapat memperoleh pengalaman melalui alat audio-visual (dengar-pandang). Pilihan pengalaman belajar melalui kegiatan mendengar ini adalah pilihan terakhir. Mengalami langsung dan memahami apa yang sedang dipelajari, maka akan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain /guru menjelaskan. Dalam situasi yang komunikatif, informasi sampai tingkat pemahaman yang masuk melalui beragam indera akan bertahan lama dalam pikiran siswa, sehingga dapat terwujud dalam penerapan dan perbuatan sehari-hari di lingkungan maupun diluar lingkungan sekolah.Sebagai contoh :
  • Perbedaan tanaman kerkeping satu dengan tanaman berkeping dua. Hal ini dapat dilakukan siswa dimulai dengan cara dimulai dari menanam sampai dengan mengamati langsung perubangan yang terjadi dalam pertumbuahan tanaman selama beberapa minggu.
  • Perbedaan Daun jambu dengan daun pepaya.
  • Perbedaan susunan tulang daun tumbuhan berakar serabut dengan tumbuhan yang berakar tunggang.
  • Dan pengalaman yang dilakukan terhadap ilmu lainnya dalam melihat, mencoba dan mempraktekan.Diskusi anatara siswa dengan guru terhadap Contoh contoh tersebut diatas akan menimbulkan situasi yang komunikatif, yang akhirnya siswa dengan sangat mudah menyerap, mengolah, menyimpan dan mempraktekan informasi / pelajaran yang diterima, daripada mendengarkan penjelasan lisan dari guru tentang hal itu tanpa ada obyeknya. Dengan kata lain membangun pemahaman dari pengamatan langsung akan lebih mudah daripada membangun pemahaman dari uraian lisan guru, apalagi bila siswa masih berada pada tingkat berpikir konkret.

3. Mengembangkan Kecerdasan Intelektual, Emosional, Spiritual, dan Sosial
Pemahaman siswa tentang sesuatu, yang terbangun ketika terjadi peristiwa belajar, akan lebih baik bila ia berinteraksi dengan teman-temannya. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan, atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau guru.

KBM perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain dalam suatu kegiatan atau event ( assambly ) yang telah dijadwalkan setiap bulannya. Dengan demikian, KBM memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan pendapat, perbedaan sikap, perbedaan kemampuan, perbedaan prestasi dan berlatih untuk bekerjasama.
4. Belajar Sepanjang Hayat
Siswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk bisa bertahan dan berhasil dalam menghadapi setiap masalah dalam menjalani proses kehidupan sehari-hari. Karena itu, siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. KBM perlu mendorong siswa untuk dapat melihat dirinya secara positif, mengenali dirinya baik kelebihan maupun kekurangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan YME kepadanya.
Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat. Informasi dengan hal-hal baru akan bertambah setiap saat sesuai dengan perkembangan jaman. KBM di sekolah harus mampu menumbuh kembangkan semangat belajar sepanjang hayat pada siswa, daripada hanya membekali siswa dengan informasi temuan para ahli dalam bentuk ilmu pengetahuan. KBM harus dapat membekali siswa dengan sejumlah keterampilan belajar, yang meliputi :

  • Pengembangan rasa percaya diri,
  • Keingintahuan,
  • Kemampuan memahami orang lain,
  • Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama,
  • Senang membaca dan mampu membaca cepat.
  • Dll yang mendorong dirinya untuk senantiasa belajar terus, baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar sekolah.

5. Belajar mandiri dan bekerjasama
KBM perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk terbiasa belajar mandiri melalui penyelesaian tugas individual, pembuatan karya individual yang memungkinkan mereka berkompetisi secara sportif untuk memperoleh penghargaan hakiki. Secara bersamaan dalam kegiatan KBM, maka proses KBM juga perlu menyediakan tugas-tugas yang mendorong siswa untuk bekerja dalam kelompok untuk memungkinkan tumbuhnya semangat bekerjasama yang mendorong tumbuhnya solidaritas, simpati dan empati ( pengenalan jiwa orang lain ) terhadap orang lain. Dengan demikian, keragaman dalam proses KBM akan melatih belajar mandiri dan belajar bersama untuk mencapai kompetisi dan prestasi unggulan sesuai dengan karakteristik yang ditargetkan.

Dari pembelajaran yang mereka alami dalam KBM tersebut, hasilnya dapat dibuktikan terhadap gurunya, orang tuanya, bahkan kepada masyarakat sekitar dalam sebuah peragaan dipanggung dalam acara asembly yang diadakan 3 kali dalam satu semester. Pelaksanaanya asembly yang mencerminkan kreatifitas siswa diserahkan kepada kreatifitas pendidik yang ada.

Diposkan oleh Sekolah Al-Zahra Indonesia di 15:44

http://alzahra-school.blogspot.com/2008/06/kbm-yang-bermakna.html

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

Kegagalan Manajemen


VISIT INDONESIA YEAR 2008

Pemerintah mencanangkan tahun 2008 sebagai tahun pariwisata bagi bangsa Indonesia, karena sejak akhir tahun 2007 atau tepatnya pada bulan Desember 2007 pemerintah melalui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik telah meresmikan program Visit Indonesia Year (VIY) 2008. Program tersebut diharapkan dapat memberi angin segar bagi pariwisata bangsa ini karena sebagaimana kita tahu keberadaan dunia pariwisata Indonesia terpuruk setelah tragedi bom Bali pertama tahun 2002 silam. Selain itu program Visit Indonesia Year (VIY) 2008 digelar untuk memperingati 100 tahun kebangkitan nasional.

Untuk mendukung program tersebut, pemerintah telah menyiapkan 100 event pariwisata yang akan digelar di seluruh wilayah Indonesia untuk menyambut kedatangan wisatawan mancanegara (wisman). Melalui Visit Indonesia Year (VIY) 2008, pemerintah menargetkan dapat mendatangkan sebanyak-banyaknya kurang lebih 7 juta wisman meskipun target jumlah kunjungan wisman tahun 2006 yang seharusnya 6 juta wisman hanya mencapai 5,5 juta wisman, namun pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata optimis untuk dapat mencapai target tersebut.

Namun program besar yang telah dirancang oleh pemerintah tersebut nampaknya masih mengalami banyak kegagalan manajemen. Mulai dari kurangnya publikasi tentang program tersebut, dan juga tidak adanya perbaikan sarana dan prasarana untuk menunjang program besar tersebut. Coba saja kita lihat di sekeliling kita, apakah publikasi tentang program tersebut sudah lebih dari cukup, ataukah masih kurang?? Karena, saya sendiri baru mengetahui adanya program tersebut pada pertengahan tahun 2008 ini (entah apakah saya yang kurang informasi), tetapi yang jelas di jalan protokol kota Yogyakarta tidak ada spanduk ataupun selebaran tentang agenda besar pemerintah tersebut. Atau mungkin hanya saya yang merasakan seperti ini? Atau banyak masyarakat yang merasakan seperti ini? Karena saat iseng – iseng browsing di internet tentang program Visit Indonesia Year 2008, memang banyak masyarakat yang tidak mengetahui agenda tersebut. Sangat tidak lucu apabila bangsa ini membuat program yang sebegitu besar tetapi masyarakatnya tidak mengetahui adanya program tersebut.

Selain itu, program besar pemerintah tersebut juga tidak ditunjang dengan pengadaan fasilitas untuk menunjang Program Visit Indonesia Year 2008 tersebut. Sebagai contoh adalah toliet yang tidak terawat yang ada di Bandara Soekarno Hatta, yang notabene Bandara tersebut adalah gerbang utama wisatawan mancanegara untuk memasuki Indonesia. Bagaimana kesan pertama para wisatawan mancanegara apabila mengetahui fasilitas yang ada di Bandara terbesar di Indonesia tersebut? Apakah seperti itu program Visit Indonesia Year 2008?
Menurut saya, hal ini merupakan kegagalan manajemen dari pemerintah karena pemerintah tidak memikirkan hal – hal atau kemungkinan terkecil yang bisa memberi nilai negatif dari program Visit Indonesia Year 2008.

Noveradika Priananta

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

JAYA PALMA NUSANTARA DIMINTAI LENGKAPI KELAYAKAN SARANA DAN PRASARANA
Stabat, (Analisa)

Bupati Langkat Ngogesa Sitepu perintahkan sejumlah stafnya untuk melakukan peninjauan ke Pabrik Kelapa Sawit PT Jaya Palma Nusantara di Lingkungan IV kelurahan Pekan Gebang, Selasa(10/3).

Tim peninjauan  terdiri dari Kadis Hutbun Ir. Supandi Tarigan, Kaban Pedalda Drs. H. Ediwarsyah, Kakan Satpol PP Edi Syahputra, SH, Kabag Humas H Syahrizal, S.Sos, MSi dengan didampingi Camat Gebang Drs. TM. Auzai dan Lurah Pekan Gebang H. Ramlan Efendi diterima  Humas PT Jaya Palma Nusantara David.

David menjelaskan, PKS yang bersangkutan belumlah beroperasi secara maksimal, hanya tahap uji coba terhadap kondisi peralatan yang diterima dari pihak ketiga dan pada perinsipnya pihaknya siap untuk mengurus izin operasional PKS dimaksud namun, saat ini masih dilakukan pembenahan sampai di sempurnakannya persyaratan lainnya.

Seusai mendengarkan penjelasan itu, Kaban Pedalda Langkat Drs H. Ediwarsyah menyatakan, pihaknya meminta kepada Manajemen PKS untuk segera melakukan pembenahan dan memenuhi beberapa sektor sebagaimana yang terdapat pada UKL (Usaha Kelola Lingkungan) dan UPL (Usaha Pemantau Lingkungan), hingga dengan terpenuhinya UKL dan UPL agar keasrian lingkungan PKS bisa terpenuhi.

Karena sesuai dengan Instruksi Bupati Langkat, pada prinsipnya Pemkab Langkat tidak menghalangi siapapun yang ingin meng investasikan modalnya di Kabupaten Langkat. Terlebih berdasarkan pantauan keberadaan PKS ini telah mampu menyerap tenaga kerja lokal, namun demikian secara aturan harus dipenuhi agar tidak menyalahi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.  “Saya minta kepada pihak manajemen pabrik sebaiknya segera melengkapi kelayakan sarana dan prasarana dengan mempedomani UKL dan UPL,”ungkap Ediwarsyah.

Kadis Hutbun mengimbau agar pihak manajemen untuk melakukan kordinasi kepada instansi terkait dan masyarakat setempat, hingga keberadaan pabrik jangan sampai meresahkan akan tetapi justru memberikan manfaat kepada warga sekitar. Setelah mendengar penjelasan dari pihak Pemkab Langkat, David mewakili manajemen menyatakan kesediaannya untuk membenahi hal-hal yang menjadi perhatian instansi terkait, sebagai prasyarat izin selanjutnya.(hpg)

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

Standar Sarana dan Prasarana Sekolah

Posted by d2n5r0 at 22:55

2008Okt

LATAR BELAKANG

Pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam pergaulan nasional maupun internasional. Untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan tersebut, Pemerintah telah mengamanatkan penyusunan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimum tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan nasional berpusat pada peserta didik agar dapat:

(a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

(b) belajar untuk memahami dan menghayati,

(c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,

(d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan

(e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Untuk menjamin terwujudnya hal tersebut diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang memadai tersebut harus memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan dalam standar sarana dan prasarana.Standar sarana dan prasarana ini untuk lingkup pendidikan formal, jenis pendidikan umum, jenjang pendidikan dasar dan menengah yaitu: Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Standar sarana dan prasarana ini mencakup:

1. kriteria minimum sarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan komunikasi, serta perlengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah,

2. kriteria minimum prasarana yang terdiri dari lahan, bangunan, ruang-ruang, dan instalasi daya dan jasa yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah.

PENGERTIAN

1. Sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat dipindah-pindah.

2. Prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah.

3. Perabot adalah sarana pengisi ruang.

4. Peralatan pendidikan adalah sarana yang secara langsung digunakan untuk pembelajaran.

5. Media pendidikan adalah peralatan pendidikan yang digunakan untuk membantu komunikasi dalam pembelajaran.

6. Buku adalah karya tulis yang diterbitkan sebagai sumber belajar.

7. Buku teks pelajaran adalah buku pelajaran yang menjadi pegangan peserta didik dan guru untuk setiap mata pelajaran.

8. Buku pengayaan adalah buku untuk memperkaya pengetahuan peserta didik dan guru.

9. Buku referensi adalah buku rujukan untuk mencari informasi atau data tertentu.

10. Sumber belajar lainnya adalah sumber informasi dalam bentuk selain buku meliputi jurnal, majalah, surat kabar, poster, situs (website), dan compact disk.

11. Bahan habis pakai adalah barang yang digunakan dan habis dalam waktu relatif singkat.

12. Perlengkapan lain adalah alat mesin kantor dan peralatan tambahan yang digunakan untuk mendukung fungsi sekolah/madrasah.

13. Teknologi informasi dan komunikasi adalah satuan perangkat keras dan lunak yang berkaitan dengan akses dan pengelolaan informasi dan komunikasi.

14. Lahan adalah bidang permukaan tanah yang di atasnya terdapat prasarana sekolah/madrasah meliputi bangunan, lahan praktik, lahan untuk prasarana penunjang, dan lahan pertamanan.

15. Bangunan adalah gedung yang digunakan untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah.

16. Ruang kelas adalah ruang untuk pembelajaran teori dan praktik yang tidak memerlukan peralatan khusus.

17. Ruang perpustakaan adalah ruang untuk menyimpan dan memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan pustaka.

18. Ruang laboratorium adalah ruang untuk pembelajaran secara praktik yang memerlukan peralatan khusus.

19. Ruang pimpinan adalah ruang untuk pimpinan melakukan kegiatan pengelolaan sekolah/madrasah.

20. Ruang guru adalah ruang untuk guru bekerja di luar kelas, beristirahat, dan menerima tamu. 21. Ruang tata usaha adalah ruang untuk pengelolaan administrasi sekolah/madrasah.

22. Ruang konseling adalah ruang untuk peserta didik mendapatkan layanan konseling dari konselor berkaitan dengan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir.

23. Ruang UKS adalah ruang untuk menangani peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan dini dan ringan di sekolah/madrasah.

24. Tempat beribadah adalah tempat warga sekolah/madrasah melakukan ibadah yang diwajibkan oleh agama masing-masing pada waktu sekolah.

25. Ruang organisasi kesiswaan adalah ruang untuk melakukan kegiatan kesekretariatan pengelolaan organisasi peserta didik.

26. Jamban adalah ruang untuk buang air besar dan/atau kecil.

27. Gudang adalah ruang untuk menyimpan peralatan pembelajaran di luar kelas, peralatan sekolah/madrasah yang tidak/belum berfungsi, dan arsip sekolah/madrasah.

28. Ruang sirkulasi adalah ruang penghubung antar bagian bangunan sekolah/madrasah.

29. Tempat berolahraga adalah ruang terbuka atau tertutup yang dilengkapi dengan sarana untuk melakukan pendidikan jasmani dan olah raga.

30. Tempat bermain adalah ruang terbuka atau tertutup untuk peserta didik dapat melakukan kegiatan bebas.

31. Rombongan belajar adalah kelompok peserta didik yang terdaftar pada satu satuan kelas.

PRASANA SEKOLAH

Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:

1. ruang kelas,

2. ruang perpustakaan,

3. laboratorium IPA,

4. ruang pimpinan,

5. ruang guru,

6. tempat beribadah,

7. ruang UKS,8. jamban,

9. gudang,

10. ruang sirkulasi,

11. tempat bermain/berolahraga.

Sebuah SMP/MTs sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:

1. ruang kelas,

2. ruang perpustakaan,

3. ruang laboratorium IPA,

4. ruang pimpinan,

5. ruang guru,

6. ruang tata usaha,

7. tempat beribadah,

8. ruang konseling,

9. ruang UKS,

10. ruang organisasi kesiswaan,

11. jamban,

12. gudang,

13. ruang sirkulasi,

14. tempat bermain/berolahraga.

Sebuah SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:

1. ruang kelas,

2. ruang perpustakaan,

3. ruang laboratorium biologi,

4. ruang laboratorium fisika,

5. ruang laboratorium kimia,

6. ruang laboratorium komputer,

7. ruang laboratorium bahasa,

8. ruang pimpinan,

9. ruang guru,

10. ruang tata usaha,

11. tempat beribadah,

12. ruang konseling,

13. ruang UKS,

14. ruang organisasi kesiswaan,

15. jamban,

16. gudang,

17. ruang sirkulasi,

18. tempat bermain/berolahraga

http://inducation.blogspot.com/2008/10/standar-sarana-dan-prasarana-sekolah.html

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

MEMILUKAN, KONDISI SARANA DAN PRASARANA SD DI JAMBI


Jambi, Kompas

Masalah pendidikan dasar di Provinsi Jambi kini sangat memilukan sekaligus memperihatinkan, akibat hampir 400 dari sekitar 2.000 gedung sekolah dasar (SD) yang ada kini dalam kondisi tidak layak pakai karena rusak berat. Namun, karena perbaikan atau rehabilitasi tidak dilakukan akibat ketiadaan dana, sekolah yang sudah tidak layak pakai sejak awal tahun lalu itu saat ini masih digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar.

Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin dalam Rapat Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi dalam rangka memperingati ulang tahun ke-45 provinsi tersebut, Minggu (6/1), mengatakan bahwa kondisi bangunan dan peralatan sebagian SD di daerah-daerah sangat menyedihkan, tidak layak lagi digunakan. Ada SD yang yang setiap kelas hanya memiliki lima bangku dan empat kursi, padahal jumlah murid per kelas berkisar antara 30 hingga 35 orang.

Atap bocor, dinding lusuh, semen lantai kelas sudah terkelupas tinggal tanah, pekarangan becek dan rusak menjadi pemandangan biasa. Hewan ternak bukan hanya leluasa masuk pekarangan sekolah, tetapi juga hingga ke ruang kelas. SD-SD yang tidak layak pakai tersebut tersebar di berbagai kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Batanghari, Sarolangun, Merangin, Bungo, Tebo, Kerinci, dan Kota Jambi.

Rapat Paripurna Istimewa DPRD tersebut dipimpin Ketua DPRD Provinsi Jambi Nasrun Hr Arbain. Hadir pada kesempatan itu mantan Gubernur Jambi periode 1979-1989 Masjchun Sofwan SH, Ny RM Nur Atmadibrata (istri mantan Gubernur Jambi RM Nur Atmadibrata), Muspida Provinsi Jambi, serta para bupati/wali kota dan tokoh-tokoh masyarakat.

Sisihkan dana

Pemda Provinsi Jambi, kata Gubernur, secara sungguh-sungguh memperhatikan sarana dan prasarana pendidikan dasar yang hancur itu. Di era otonomi daerah sekarang ini, pihak yang paling bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana pendidikan dasar adalah pemda kabupaten dan kota. Oleh karena itu, Pemda Provinsi Jambi sudah mengoordinasikan dan minta kepada para bupati dan wali kota agar secara sungguh-sungguh memperhatikan gedung SD yang tidak layak pakai di daerahnya.

Zulkifli mengharapkan pemda kabupaten agar menyisihkan sebagian dana untuk menyediakan, atau memperbaiki atau merehabilitasi sarana gedung yang rusak tersebut. Para bupati dipersilakan membangun kantor baru, gedung DPRD baru, kantor Bappeda baru, tetapi SD yang sudah hancur, rusak berat, dan sebagainya juga agar diperhatikan.

“Pemda Provinsi Jambi sudah berketetapan hati untuk secara sungguh-sungguh meningkatkan sumber daya manusia (SDM) daerah ini melalui pendidikan. Namun, kendalanya adalah sarana dan prasarana pendidikan, mulai dari SD, SLTP dan SMU, di mana seperti sekarang ini kondisinya parah,” kata Zulkifli.

Zulkifli mengatakan, untuk mendongkrak SDM melalui peningkatan mutu pendidikan memang kendala utamanya terletak pada ketiadaan dana untuk memperbaiki dan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan itu sendiri. “Tanpa peningkatan SDM, pada masa yang akan datang putra-putri asal Provinsi Jambi akan jadi penonton. Kita semua jelas tidak rela melihat anak-anak Jambi di era globalisasi nanti menjadi pesuruh, satpam, dan sebagainya karena mutu SDM-nya rendah,” ujarnya.

“Kita ingin pada masa datang putra-putri daerah ini jadi pemimpin yang andal, tenaga profesional, jadi pemimpin yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan. Salah satu program yang ditempuh untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di daerah ini adalah dengan mengadakan kelas unggulan di setiap sekolah,” kata Gubernur menambahkan. (nat)

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

Manajemen Memilih Perguruan Tinggi

Minggu, 11 Mei 2008 21:24

(Drs Noor Miyono Msi, magister managemen pemasaran pendidikan)


Ujian Nasional Sekolah Menengah Umum sudah berlalu, dan sekarang saatnya sang anak dan orang tua bersiap untuk mencari perguruan tinggi terbaik yang akan menjadi kawah candradimuka selanjutnya untuk mencapai cita-cita hidup dan mempertajam rasa kemanusiaan.

Banyak kiat yang dapat digunakan untuk memilih perguruan tinggi yang tepat. Namun ternyata banyak calon mahasiswa yang keliru dalam memilihnya.

Salah satu kiat yang bisa menajdi pilihan buat anak dan orang tua dalam memilih perguruan tinggi adalah manajemen “Kiss Me” dan “Kekepan”.

”KISS ME”

Akronim Kiss Me adalah kemampuan, informasi, sarana prasarana, situasi, monitoring, dan evaluasi.

Kemampuan

Yakni seberapa kemampuan yang kita miliki untuk memasuki perguruan tinggi, baik kemampuan finansial, dan kemampuan fisik.

Informasi

Seberapa besar kita mempunyai informasi tentang suatu perguruan tinggi baik jurusan, program studi, status akreditasi, status kampusnya, fasilitas penunjang, jumlah mahasiswa, dan alumni.

Sarana dan Prasarana

Agar kita sukses dalam studi tentu kita harus memiliki sejumlah sarana penunjuang secara pribadi. Yakni alat transportasi kuliah, buku-buku referensi kuliah, komputer pribadi.

Situasi

Sebelum menentukan pilihan studi sebaiknya kita mengkaji situasi saat sekarang dan prospek jurusan yang kita pilih di masa yang akan datang.Tentunya setelah kita lulus apakah jurusan tersebut masih mampu bersaing dan prospektif dalam dunia dan pasar kerja.Banyak jurusan yang potensial dan prospektif, tetapi karena minimnya informasi berakibat sangat sedikit peminatnya pada program studi tersebut.

Monitoring

Kita harus mampu melakukan monitoring terhadap diri sendiri apa yang kita lakukan selama proses belajar. Misalnya nilai-nilai tes, tugas dan indeks prestasi setiap semester dan komulatifnya sehingga kita bisa mengetahui sejak dini apakah target yang telah kita tentukan tercapai atau belum.

Evaluasi

Hal ini memang menjadi sangat penting manakala selama mengikuti studi banyak yang terjadi di luar peerkiraan dan target sebelumnya. Dengan evaluasi kita dapat mengambil keputusan dengan tepat terhadap apa yang telah kita lakukan dan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

”KEKEPAN”

Sedangkan yang dimaksud dengan “kekepan” adalah kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang lebih akrab di telinga kita sebagai SWOT terhadap pilihan yang akan kita putuskan.

Analisa SWOT dimaksudkan untuk mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan dalam mencapai kesuksesan belajar di perguruan tinggi. Oleh karenanya kita perlu berkonsultasi dengan pihak-pihak yang mempunyai informasi terhadap rencana pilihan kita. Bisa orang tua, keluarga, tetangga, konsultan pendidikan atau kita bisa menanyakan langsung ke perguruan tinggi tujuan kita.

Untuk memilih perguruan tinggi seorang calon mahasiswa biasanya akan dipengaruhi oleh beberapa unsur lingkungan. Seperti orang tua, famili, teman dekat, teman sekolah.

Menurut Ben M Enis (1974), unsur yang mempengaruhi individu adalah kultur, famili, lingkungan dan referensi. Dalam diri calon mahasiswa biasanya sudah terbentuk kesan tertentu yang berlandaskan agama, sosial budaya, suku/etnis, nilai-nilai dan dasar filosofis yang mereka anut. Dasar-dasar ini akan menuntun dia untuk memilih sebuah lembaga pendidikan tinggi. Sebagai calon mahasiswa yang telah mengumpulkan banyak informasi tentang perguruan tinggi akan membentuk persepsi dalam dirinya terhadap PTN/PTS. Sebelum sampai ke tingkat pengambilan keputusan banyak informasi diperoleh siswa SMA, baik langsung dari PTS/PTN maupun yang sudah difilter oleh media.

Informasi-informasi tersebut akan mendapat distorsi lagi dari lingkungannya di atas. Banyak kasus yang terjadi, lulusan SMTA yang baru satu kali mengikuti SPMB PTN dan gagal, ia sama sekali tidak tertarik masuk PTS karena masih ada satu lagi kesempatan tahun depan untuk mengulang SPMB PTN dan gagal, ia sama sekali tidak tertarik masuk PTS karena masih ada satu lagi kesempatan tahun depan untuk mengulang tes SPMB. Jika gagal juga, tingkat kebutuhan masuk PTS sudah mendesak, dan ia akan memilih salah satu PTS yang menurut persepsinya cukup baik.

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

RIBUAN PUSKESMAS DI DAERAH TERPENCIL TAK ADA DOKTER

Selasa, 17 Maret 2009 | 21:23 WIB

NAL
Sumber : Kompas

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelayanan kesehatan di daerah terpencil, daerah perbatasan, dan pulau-pulau terluar sulit dilakukan pemerintah. Dalam kondisi demikian, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan yayasan keagamaan di sejumlah daerah, diam-diam memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat. Namun demikian, masih banyak daerah terpencil yang puskesmasnya dibangun, dokter tidak ada. Ribuan puskesmas tidak memiliki tenaga dokter.

Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan, perlu dan penting membuat grand design tentang pelayanan kesehatan di daerah terpencil, daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Saatnya sekarang dilakukan survey kebutuhan berdasarkan keunikan masing-masing daerah.

Demikian antara lain benang merah yang mengemuka pada seminar Peranan LSM dan Yayasan Keagamaan dalam Pelayanan Kesehatan di Daerah Terpencil, yang digelar Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (17 /3) di Jakarta.

Tampil sebagai narasumber dr Dasdo Antonius Sinaga dari Yakkum Emergency Unit; Elvi S Siahaan dari MAP International; dr Dwi Handono S Mkes dari Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM; Prof dr Laksono Trisnantoro MSc PhD, Direktur Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK UGM, dan drg Kartini Rustandi MKes dari Subdit Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan Direktorat Bina Kesehatan Komunitas, Depkes.

Dasdo Antonius Sinaga mengungkapkan pengalamannya memberikan pelayanan yang memuaskan bagi semua pihak di Kecamatan Gunung Sitoli, Sirombu, dan Kecamatan Lahewa, di Nias, Provinsi Sumatera Utara.

“Masyarakat mengalami kesulitan pelayanan kesehatan di puskesmas, karena keberadaan dokter umum hanya ada satu atau dua orang per kecamatan. Dokter gigi tidak ada, dan banyak persoalan lain seperti infrastruktur, ketersediaan obat (jenis dan jumlah) dan insentif,” katanya.

Yakkum Emergency Unit memberikan pelayanan di Nias pascagempa dan tsunami tahun 2004. Visi yang diusung, jelas Dasdo, adalah bagaimana masyarakat yang terkena dampak bencana mendapatkan hak untuk hidup bermartabat dan berkesinambungan.

Elvi S Siahaan dari Nias melalui pembicaraan telepon mengatakan, MAP International sejak 2005 sampai sekarang memberikan pelayanan kesehatan di 15 desa di pulau Batu, Tello dan pulau-pulau sekitarnya di Nias Selatan. MAP Internastional sampai membangun Rumah Sakit Tello yang diserahkanterimakan tahun 2008. Sedangkan untuk menjangkau daerah-daerah terjauh antarpulau, perjalanan 3-6 jam, ada kapal Tello Mobile Clinic.

“MAP International sudah berkomitmen bantu puskesmas, karena kondisinya di Nias, sumberdaya manusianya terbatas dan terkendala transportasi,” katanya.

Elvi menjelaskan, karena faktor kemiskinan dan terbatasnya kemampuan finansial masyarakat, selama ini si sakit baru dibawa berobat setelah pasien dalam kondisi sangat buruk. Naik kapal saja Rp 100 ribu per orang, belum lagi harus bayar penginapan, dan kebutuhan lainnya. Untuk memberikan pelayanan kesehatan dan sekaligus meringankan beban masyarakat, MAP memiliki Tello Mobile Clinic.

Sedangkan Dwi Handono memaparkan pengalaman gagalnya mencari kontraktor pelayanan kesehatan di daerah terpencil di Kabupaten Berau. “Karena tidak adanya kontraktror yang memenuhi syarat untuk pengadaan SDM dan penyelenggaraan pelayanan, dan pengadaan sarana dan prasarana, anggaran APBD tahun 2008 senilai Rp 970 juta tidak jadi terpakai,” ungkapnya.

Tidak adil

Laksono Trisnantoro menjelaskan, digelarnya seminar karena ada fakta dan data yang menarik yang harus dicarikan jawabannya. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan di daerah terpencil sulit dilakukan oleh pemerintah. Kontrak bidan dan dokter perorangan belum dapat memberikan jawaban tentang penyelesaian masalah daerah terpencil ini.

Laporan dari Pusrengun (Anna Kurniati, 2007) menyebutkan, 30 persen dari 7.500 puskesmas di daerah terpencil tidak mempunyai tenaga dokter. Survey yang dilakukan Pusrengun di 78 kabupaten di 17 provinsi di Indonesia menemukan hal menarik.

Dari 1.165 puskesmas di daerah tersebut, 364 puskesmas (31 persen) buruk situasinya. Sekitar 50 persen dari 364 puskesmas dilaporkan tidak mempunyai dokter, 18 persen tanpa perawat, 12 persen tanpa bidan, 42 persen tanpa tenaga sanitarian, dan 64 persen tanpa tenaga ahli gizi.

Dibandingkan dengan daerah biasa, gambaran ini sangat buruk. Sebagai contoh, di daerah biasa hanya 5 persen puskesmas tanpa dokter. Dalam hal tenaga spesialis juga terlihat ketimpangan. Menurut data KKI (2007), DKI Jakarta mempunyai 2.890 spesialis ( 23,92 persen), Jawa Timur 1.980 spesialis (16,39 persen), Jawa Barat 1.881 (15,57 persen). Sementara itu di Sumatera Barat hanya 167 spesialis (1,38 persen), paparnya.

Menurut Laksono, ketidaktersediaan tenaga medik dan kesehatan ini menjadi semakin berat implikasinya karena adanya Jaminan Kesehatan Masyarakat. Ketimpangan penyebaran spesialis ini merupakan hal yang tidak adil, terutama dalam kontek s kebijakan nasional yang menggunakan pembayaran penuh untuk masyarakat miskin.

Di daerah yang jarang dokter spesialisnya, masyarakat miskin atau setengah miskin akan kesulitan mendapatkan akses ke pelayanan medik. Sebaliknya di tempat yang banyak dokternya, akan sangat mudah. Akibatnya dana pusat untuk masyarakat miskin dikhawatirkan terpakai lebih banyak di kota-kota besar dan di pulau Jawa.

Kartini Rustandi dalam paparannya menuju Indonesia Sehat 2010, mengakui adanya kesenjangan pelayanan kesehatan antarwilayah, khususnya di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan. Ke depan akan ditingkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, karena status kesehatan masyarakat masih rendah. Diusahakan setiap desa ada SDM yang berkompeten. Setiap puskesmas bisa terjangkau dan dijangkau masyarakat, katanya.

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Manajemen Sarana dan Prasarana

TAHUN INI, KECELAKAAN KA HARUS NIHIL

Sabtu, 16 Februari 2008 | 19:45 WIB

PRIM

sumber: kompas

SOLO, SABTU – Angka kecelakaan kereta api (KA) pada tahun ini harus nihil sehingga semua jajaran perkeretaapian diminta bekerja keras untuk memberikan pelayanan terbaik, termasuk di antaranya kenyamanan dan keselamatan penumpang.

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, mengatakan hal itu di sela-sela meresmikan kereta rel diesel elektrik (KRDE) jurusan Solo- Yogyakarta-Kutoarjo pp, di Stasiun Solo Balapan, Sabtu (16/2).

“Kita berupaya menekan terus angka kecelakaan KA agar nihil, termasuk  di antaranya memperbaiki pelayanan dan stasiun harus bersih. Kita maunya kecelakaan tahun ini nihil,” katanya seperti dikutip dari Antara.

Ia meminta Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ronny Wahyudi agar jangan sampai ada lagi KA yang anjlok. Jika dahulu masih ada sarana dan prasarana tua, kacau masalah roda KA, dan masalah kedisiplinan, tahun ini semuanya harus dibenahi.

“Perbaikan sarana/prasarana yang rusak, seperti rel KA yang dahulu memakai kayu dan yang jelek telah diganti. Sedangkan  lokomotif dan roda yang telah rusak semuanya diperbarui,” katanya.

Menteri mengatakan, perbaikan sarana angkutan KA ini juga dilakukan di luar Jawa, seperti di Sumatra karena transportasi ini penting sebagai angkutan kelapa sawit dan batu bara.

Menyinggung mengenai KRDE jurusan Solo-Semarang, Jusman, mengatakan, KA itu kini tengah dimodifikasi dari listrik menjadi KRDE di bengkel PT IMKA Madiun, Jawa Timur.

Ia berharap, pada Juli 2008 KA KRDE jurusan Solo- Semarang sudah selesai sehingga bisa dioperasikan, seperti KRDE jurusan Solo-Yogyakarta-Kutoarjo yang telah diresmikan pengoperasiannya.

Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz, meminta pengoperasian KRDE jurusan Solo-Semarang bisa dilakukan lebih cepat. “Saya minta kalau bisa pengoperasian KA itu lebih cepat malah lebih bagus. Kalau bisa bisa beroperasi sekitar bulan Mei 2008,” katanya.

KA KRDE jurusan Solo-Semarang ini memang diperlukan untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di jalan raya  Solo-Semarang, sekaligus bisa memperlancar roda perekonomian.

Mei 31, 2009 Posted by | Manajemen Sarana dan Prasarana | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.