End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Pembiayaan Pendidikan

MEMBIAYAI PENDIDIKAN DENGAN ZAKAT

Desember 9, 2008 at 5:54 am

Oleh : Qolbi Khoiri, M.Pd.I

Barangkali tema yang penulis angkat dalam mengembangkan tema wacana di atas bukanlah sebuah paradigma baru dalam dunia pendidikan terutama pendidikan Islam. Kalau kita mencoba kembali untuk membalik-balik lembaran sejarah umat Islam terdahulu ketika mengalami masa keemasannya justru masalah pendidikan adalah masalah yang sangat diperhatikan. Hal ini terbukti dengan usaha pemerintah Islam membangun perpustakaan terbesar di Baghdad yang diberi nama “Baitul Hikmah” yang memiliki ribuan judul buku hasil dari pemikiran umat Islam sendiri. Kesemuanya itu tidak terlepas dari peran serta masyarakat Islam yang sangat antusias mengorbankan harta mereka demi kepentingan pendidikan.

Bukanlah hal yang mustahil bahwa pendidikan sangat membutuhkan alokasi dana yang tinggi. Akan tetapi ketika pemerintahan Indonesia dihadapkan kepada masalah peningkatan kualitas pendidikan yang berkaitan dengan masalah dana, maka pemerintah cenderung berusaha untuk mengeksploitasi dana tersebut untuk kepentingan pribadinya, dan menomorduakan masalah pendidikan. Seolah-olah mereka tidak mau ambil pusing dengan upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia yang semakin terpuruk.

Sadar atau tidak, yang jelas sampai saat ini sistem pendidikan nasional Indonesia masih didominasi oleh sistem pendidikan warisan kolonial yang berusaha untuk selalu membodohi rakyat Indonesia. Mereka tidak menginginkan rakyat Indonesia memiliki kecerdasan yang lebih dari golongan kolonial sebagai kelompok bangsawan pada saat itu. Sementara rakyat Indonesia berada pada status golongan bawah yang dapat diperintahkan untuk melakukan apa saja sesuai dengan kepentingan kolonial.

Adalah hal yang tidak dapat kita sesali, segala peristiwa yang terjadi tempo dulu merupakan kecelakaan sejarah yang dialami oleh bangsa Indonesia. Dan kecelakaan itu sampai saat ini masih menghantui dan menjadi momok yang menakutkan terhadap masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Negara Indonesia memang bukanlah negara Islam yang menganut ajaran Islam 100 %, akan tetapi menerapkan sebagian ajaran Islam di negara Indonesia bukanlah hal yang salah, termasuk di dalamnya masalah pembiayaan pendidikan melalui zakat. Karena dari biaya pengumpulan zakat tersebut, maka sebagian besar masyarakat Indonesia akan merasakan kesejahteraan yang selama ini mereka dambakan. Tentu tidak akan ada lagi masyarakat Indonesia yang menjadi pengemis di jalanan, meminta kesana kemari sambil mengulurkan tangan. Jelas ini adalah sebuah cacat yang mesti ditanggulangi oleh pemerintah. Di lain pihak guru tidak lagi merasakan kekurangan gaji yang diterima setiap bulannya, karena pendistribusian hasil dari zakat, infak dan sedekah itu telah diperkirakan sedemikian rupa sehingga segala kebutuhan pendidikan dapat di atasi.
Jadi pada hakikatnya zakat tidak hanya diberikan kepada mereka yang memiliki status ekonomi rendah (miskin), akan tetapi guru sebagai komponen masyarakat juga perlu diperhatikan kesejahteraannya, karena merekalah yang menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas itu. Semakin berkualitas guru yang memberikan pendidikan maka semakin berkualitas pula out put pendidikan itu. Lalu bagaimana usaha untuk menciptakan guru yang berkualitas itu? Jawabnya, kesejahteraan adalah satu-satunya jalan untuk menciptakan hal tersebut. Karena majunya beberapa negara berkembang seperti Jepang misalnya, penghargaan pemerintah terhadap eksistensi guru melebihi segala-galanya, seperti pejabat, prajurit yang berjuang hidup mati. Sebab keberhasilan yang dicapai oleh setiap orang dengan segala bentuk jabatan yang dimilikinya tidak terlepas dari peran guru yang mendidiknya selama di bangku sekolah. Adalah tidak mungkin seseorang menjadi menteri tanpa memperoleh pendidikan dan pengajaran para guru.

Suatu sejarah pernah terjadi ketika Jepang di bom atom oleh sekutu pada tahun 1942, setelah semuanya hancur dan yang tinggal hanya beberapa orang prajurit, kemudian sang pangeran bertanya, apakah masih ada guru yang hidup? Secara spontan para prajurit itu merasa heran, mengapa yang ditanya adalah guru, bukan para prajurit yang telah berkorban sampai tetes darah terakhir untuk negaranya. Pangeran menjawab, bahwa keadaan negara Jepang yang maju sebelum dibom atom adalah berkat para guru, dan para guru pula nantinya yang akan menciptakan generasi-generasi baru penerus masa depan negara Jepang.

Melalui peristiwa di atas, jelas bahwa posisi guru pada negara-negara berkembang sangat dihargai. Pertanyaan yang muncul adalah apakah di negara Indonesia demikian adanya? Barangkali pertanyaan tersebut tertuju pada pemerintah yang memegang tampuk pemerintahan dan penggerak roda negara ini.

Kembali pada persoalan awal tentang eksistensi zakat yang digunakan sebagai biaya pendidikan, pada hakikatnya zakat dalam arti zakat mal (harta) yang dikumpulkan, secara eksplisit tidak ada larangan dalam ajaran Islam apabila dioptimalkan guna kepentingan pendidikan. Bahkan akan sangat produktif bila zakat tersebut mengambil peran dalam memberi kemaslahatan terhadap kondisi pendidikan terutama di Indonesia yang semakin lama seolah-olah semakin terkesampingkan yang dipicu oleh kompetisi pengayaan oknum tertentu secara materil selama pendistribusian zakat tersebut tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah tercantum dalam dogmatis Islam.
Belajar dari sejarah yang telah ditempuh oleh Islam sejak pada masa Rasulullah hingga periode tabi’in mengindikasikan bahwa zakat harta yang telah terkumpul di baitul mal jelas dimanfaatkan untuk kepentingan dan kemaslahatan umat Islam itu sendiri. Kalau pada masa Rasulullah saw harta yang terkumpul itu dipergunakan untuk kepentingan perang dan penyiaran agama Islam ke berbagai wilayh sekitar jazirah Arab, karena memang kondisi yang menuntut saat itu adalah usaha pendanaan biaya perang yang sangat dibutuhkan. Demikian juga halnya pada masa sahabat masih berorientasi terhadap kegiatan pengembangan ajaran Islam. Akan tetapi setelah Islam meluas ke berbagai negara di belahan dunia, dan kebutuhan untuk pemantapan sumber daya manusianya terus meningkat serta pemikiran umat Islam yang semakin antusias untuk memperhatikan generasi selanjutnya, maka para khalifah mulai berinisiatif untuk memantapkan posisi umat Islam dengan membina dan mengasuh mereka melalui aspek pendidikan yang lebih formal. Sehingga didirikanlah berbagai lembaga pendidikan yang menunjang untuk hal tersebut. Seperti lembaga pendidikan Nizamiyah yang pernah didirikan pada masa dinasti Abbasiyah dan lain sebagainya, ditopang oleh subsidi yang berasal dari hasil pengumpulan zakat harta yang menjadi salah satu ajaran Islam yang disyari’atkan. Artinya kondisi yang demikian itu memang menuntut untuk mengalokasikan dana khusus dari baitul mal untuk kepentingan pendidikan.

Dianalogikan dengan kondisi pendidikan di negara Indonesia, dalam sebuah kerangka berpikir, penulis melihat bahwa Indonesia yang dikaruniai dengan berbagai potensi sumber daya alam yang seharusnya mampu meningkatkan sumber daya manusianya ternyata masih berpikir dua kali jika mengalokasikan dana yang lebih besar terhadap pendidikan. Kecenderungan para pemegang kebijakan yang telah penulis gambarkan di atas justru menjadi penghalang proses peningkatan itu sendiri. Sehingga tidak salah kalau pendidikan Indonesia masih selalu tertinggal dari beberapa negara lainnya yang pada awalnya berada pada posisi dan latar belakang sejarah yang sama.
Sebagai negara yang memiliki populasi bergama Islam yang terbanyak di dunia, negara Indonesia menurut analisa penulis perlu untuk mengaplikasikan dan menerapkan pembiayaan pendidikan dari hasil pengumpulan zakat jika seandainya Indonesia memang kekurangan dana dalam pelaksanaan pendidikan. Akan tetapi realita yang terlihat adalah Indonesia kaya dengan sumber daya alam yang melimpah yang kalau hanya untuk biaya pendidikan sudah lebih dari cukup. Sehingga alangkah sangat disayangkan apabila pendidikan masih saja dibiayai oleh zakat.

Kendala lain yang dihadapi adalah, walaupun Indonesia adalah negara mayoritas penduduknya beragama Islam, akan tetapi di samping itu banyak penduduk lainnya yang menganut agama nonislam, jadi pendidikan yang diterapkan di Indonesiapun tidak semuanya berbasis agama Islam. Dengan demikian zakat yang dikumpulkan dari penduduk muslim tidak dapat didistribusikan untuk kepentingan umat nonmuslim.
Ditambah lagi saat ini telah terlihat jelas berbagai misi dan kepentingan umat nonmuslim dalam rangka menyebarkan agama yang dianutnya, yang diistilahkan dengan proses kristenisasi. Seandainya zakat yang dikumpulkan itu digunakan untuk biaya pendidikan nasional secara keseluruhan adalah kurang relevan, sementara pendidikan Islam yang kian kurang diminati oleh umat Islam sendiri justru lebih membutuhkan alokasi dana pendidikan yang lebih besar dan lebih memadai. Oleh sebab itu, jikalau seandainya akan digunakan juga cukuplah untuk biaya pendidikan umat Islam saja tidak lebih dari itu.
Adalah saran yang sangat proposrsional jika dalam hal ini penulis mengutarakan bahwa terlepas dari ikatan pemerintah, zakat yang terkumpul pada lembaga-lembaga Islam yang mengurusi persoalan tersebut, menjadikan sebahagiannya untuk kepentingan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik madrasah, pesantren-pesantren maupun perguruan-perguruan tinggi Islam lainnya. Wallahu A’lam Bisshawab

Mei 24, 2009 - Posted by | Pembiayaan Pendidikan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: