End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Manajemen Kurikulum

Lampung Rawan Bencana, Pendidikan Mitigasi Minim

Sabtu, 23 Februari 2008 | 00:17 WIB

Sumber: kompas

BANDAR LAMPUNG, JUMAT – Sebagai salah satu wilayah dari 28 wilayah di Indonesia yang tergolong rawan gempa dan tsunami, pendidikan mitigasi bencana di Lampung sangat minim. Untuk itu, pendidikan mitigasi yang disisipkan di setiap mata pelajaran sebaiknya segera dilakukan untuk menyiapkan siswa atau masyarakat tanggap bencana.

Ahmad Fikri dari tim Makmal Pendidikan Insani Dompet Dhuafa, Jumat (22/2) pada acara Manajemen Tanggap Bencana Bidang Pendidikan untuk guru-guru sekolah dasar se-Lampung di Bandar Lampung mengatakan, sebetulnya Departemen Pendidikan Nasional sudah memasukkan pelajaran mengenai mitigasi bencana ke dalam kurikulum. Hanya saja, implementasi di lapangan tidak ada.

Para guru yang seharusnya menjadi agen perubahan bidang sosial selama ini justru tidak berperan. Para guru hanya mengajarkan jenis-jenis gempa dan penyebab gempa , tanpa mengajarkan mitigasi bencana atau cara-cara menghadapi bencana kepada para siswa.

Padahal sama seperti Jepang, Indonesia juga terletak di wilayah jalur pegunungan berapi atau ring of fire. Selain itu Indonesia juga dikepung oleh lempeng-lempeng benua. Sehingga potensi terjadi bencana alam sangat besar.

Yang membedakan, lanjut Fikri, para guru di Jepang memiliki kreativitas untuk mengajarkan mitigasi bencana kepada para siswa. Sedangkan para guru di Indonesia pada umumnya dan Lampung khususnya belum memiliki sikap kreatif tersebut.

Dengan demikian, ketika terjadi bencana, masyarakat akan selalu menjadi obyek evakuasi tim satkorlak tanpa pernah bisa menolong dirinya sendiri. Para guru juga sibuk meminta bantuan tanpa membantu yang lainnya sehingga mental trauma terus menghantui korban. Padahal, salah satu cara supaya masyarakat cepat pulih dari trauma bencana adalah dengan kembali beraktivitas seperti saat kondisi normal.

Melalui pelatihan manajemen tanggap bencana bidang pendidikan, para guru diharapkan mampu menjadi tenaga relawan bidang pendidikan. Selama bencana belum terjadi, para guru diharapkan secara kreatif mengajarkan jenis-jenis bencana, cara menghadapi bencana, hingga cara-cara penyelamatan atau mitigasi saat terjadi bencana.

Pengajaran itu bisa disisipkan dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan. Dengan demikian, para siswa akan memiliki sikap waspada terhadap bahaya bencana alam serta bekal cara-cara pencegahan menghadapi bencana.

Selanjutnya, pasca bencana para guru sebaiknya tidak hanya menunggu bantuan, melainkan secara aktif mengajak kembali para muridnya aktif belajar. Dengan demikian, masyarakat terutama anak-anak akan cepat kembali dipulihkan, kata Fikri.

Selain sikap aktif para guru, lanjut Fikri, sebaiknya pemerintah kota/kabupaten juga segera melengkapi wilayah yang rawan bencana dengan rambu-rambu evakuasi atau pengungsian. Sehingga ketika terjadi bencana, masyarakat di wilayah yang berpotensiben cana alam mampu melakukan evakuasi sendiri sebelum tim satkorlak turun tangan.

Mei 28, 2009 - Posted by | Manajemen Kurikulum

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: