End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Evaluasi Pembelajaran

BACA SENYAP DAN SARAPAN PAGI, KHAS ANAK-ANAK SD SANGGAU

Senin, 22 Desember 2008 | 22:33 WIB

MUNGKIN belum banyak masyarakat Indonesia — di luar pulau Kalimantan, yang mengenal Kabupaten Sanggau, di Provinsi Kalimantan Barat. Kecuali bagi pencari kerja (tenaga kerja Indonesia) yang ingin melintas batas menuju negara tetangga Malaysia, Sanggau mungkin salah satu daerah yang tak asing lagi.

Atau daerah berpenduduk 377.199 jiwa (tahun 2006) ini sempat mencuat ketika terjadi kasus kerusuhan sosial Maret 1999 yang menelan korban ratusan jiwa meninggal dan ribuan rumah dibakar.

Untuk ingin tahu kondisi dan situasi Sanggau, khususnya di bidang pendidikan, Kompas harus menempuh perjalanan darat dari Pontianak, Ibukota Provinsi Kalimantan Barat, ke Sanggau sejauh lebih kurang 280 km, dengan waktu tempuh tercepat 5 jam dengan rute Pontianak-Tayan-Sanggau, atau 6 jam dengan rute Pontianak-Ngabang-Sanggau. Sekitar 30 km jalan, masih berupa tanah liat dengan sedikit pengerasan dengan kerikil. Karena musim hujan, ada banyak bagian jalan yang digenangi air dan berlubang-lubang bagai kubangan kerbau.

Di kiri-kanan jalan yang sepi dari rumah-rumah penduduk, masih terdapat banyak tumpukan kayu berbagai diameter dan satu-dua tempat penggergajian kayu. Kondisi itu mencerminkan betapa hutan Kalimantan terus dirambah. Masih terus berlangsung pembiaran penebangan hutan, di daerah seluas 18.302 kilometer persegi yang 65 persen wilayahnya berupa hutan. Kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan kelestarian hutan, jelas belum terlihat.

Lain halnya dengan pendidikan. Pada awalnya minat anak, murid-murid sekolah dasar (SD) mengikuti pelajaran di sekolah, rendah. Tingkat DO (drop out ) murid SD cukup besar/tinggi. Lalu, jamak dengan persoalan pendidikan di daerah terpencil lainnya, kekurangan guru, keterbatasan kapasitas tenaga guru dalam mengembangkan metoda belajar-mengajar yang merangsang minat belajar anak. Juga keterbatasan guru untuk mengakses informasi metoda belajar-mengajar yang menyenangkan bagi anak.

Kondisi memprihatinkan ini dengan cerdas terbaca oleh World Vision Indonesia, lembaga kemanusiaan Kristen, yang sudah sejak tahun 1960 berpengalaman melayani anak-anak, keluarga, dan masyarakat miskin untuk mencapai potensi terbaik mereka dengan menangani penyebab kemiskinan dan ketidakadilan.

“Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, merupakan salah satu dari 10 provinsi yang mendapat bantuan dan pelayanan dari World Vision Indonesia. Ada 40 program integrasi masyarakat jangka panjang yang disebut Area Development Programs (ADP) yang tersebar di 34 kabupaten, 123 kecamatan, dan 722 desa di 10 provinsi di Indonesia,” kata Marketing Public Relation Manager World Vision Indonesia, John Nelawan , Sabtu pekan lalu.

Dari enam proyek World Vision Indonesia di ADP Sanggau, salah satunya di bidang pendidikan adalah child sstudy performance. Berdasarkan evaluasi, ada beberapa kerentanan utama dalam masyarakat, salah satunya pendidikan rendah, di mana 3,5 persen usia wajib belajar tidak bersekolah, sedangkan 41,8 persen hanya menempuh sekolah dasar. Di wilayah program ADB Sanggau, sebanyak 12,05 persen kepala keluarga hidup di bawah garis kemiskinan, tandasnya.

Apa yang diperbuat ADP Sanggau?

Berawal dari keprihatinan melihat kondisi pendidikan, World Vision Indonesia tahun 2005 mengembangkan satu proyek percontohan yang diberi nama metoda PAKEM, singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan melalui Kalimantan Education Enhancement Program, di SD Negeri Nomor 20 Kecamatan Balai Batangtarang, Kabupaten Sanggau.

“Tujuan program adalah untuk meningkatkan kreativitas guru SD dalam mengembangkan metode belajar-mengajar yang menyenangkan bagi murid-murid SD, mengurangi angka DO murid SD di wilayah dampingan. Meningkatkan prestasi belajar anak dan meningkatkan jumlah anak/murid SD yang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP,” kata Manager of ADP Sanggar, I Made Sukariata.

Untuk itu, semua guru SDN 20 Balai Batangtarang diberikan pelatihan PAKEM. Usai pelatihan, aplikasi di lapangan pun dilakukan. Makanya, jangan heran, jika berkunjung ke SDN 20 Balai Batangtarang, di dinding sekolah terpajang kalimat; Pelaksanaan PAKEM perpusat pada anak.

Guru membuat persiapan matang. Hasilnya? Sebelum bicara hasil, mari kita cermati apa yang terjadi di SDN 20 Balai Batangtarang. Berkunjung ke sekolah yang berada 115 km timur Kota Pontianak ini, mungkin kekaguman yang bakal muncul. Kenapa tidak, walau jauh di pelosok desa, mereka sebelum jam pelajaran dimulai sudah terbiasa dengan kegiatan Baca Senyap , sebuah kegiatan positif yang barangkali, jarang dilakukan di SD mana pun di Indonesia.

Dalam Baca Senyap, sebelum lonceng masuk pelajaran dimulai, semua murid sibuk membaca buku-buku kesukaannya. Sebuah kesadaran yang terus dipupuk dalam metoda PAKEM. Buku-buku untuk bacaan murid-murid bertumpuk di bagian tengah ruangan, tergeletak di atas empat meja yang dirapatkan.

Dalam desain leter U anak-anak duduk mengelompok, satu kelompok terdiri dari 4 atau lima orang. Dalam membaca senyap, yang ada hanya keheningan. Karena membaca dalam hati, makanya kegiatan ini mereka namakan membaca senyap. Pada kegiatan berikutnya, Sarapan Pagi , anak-anak mengerjakan soal-soal. Usai itu baru mereka mendiskusikan jawabannya. Hasil pekerjaan mereka diperiksa oleh teman satu kelompok. Sedang guru memantau bagaimana diskusi antar kelompok. Kegiatan Baca Senyap dan Sarapan Pagi ini berlangsung 10-15 menit sebelum jam pelajaran dimulai.

Mengamati ruang kelas, di dalam jepitan yang terpasang dinding tertera hasil-hasil bacaan masing-masing murid di rumah, dalam bahasa mereka sendiri, tentang apa saja. Yang suka mengarang, menuliskan hasil karangannya. Yang suka matematika menuliskan pengerjaan soal-soal. Yang suka ilmu pengetahuan alam, menuliskan hasil bacaan atau pengamatannya, antara lain tentang jenis satwa yang mereka temukan di ladang orangtuanya. Unik dan kreatif.

Di sini kreativitas anak ditumbuhkembangkan. Dan apa yang mereka lakukan, bukan paksaan, tapi kesadaran dan kemauan mereka sendiri, kata Teguh Karyadi, Kepala SDN 20 Balai Batangtarang. Pengetahuan anak-anak jadi luas dan mentalnya anak menjadi bagus.

Pada dinding samping pintu masuk, tertera puluhan jenis-jenis pelanggaran yang disertai dengan sanksinya. Semuanya dirumuskan oleh murid-murid SD, masing-masing kelas. Misalnya berbuat amoral atau berzina, hukumnya dikeluarkan dari sekolah. Sebuah pembelajaran tentang tanggung jawab dan kejujuran dalam bersikap, serta disiplin diri sendiri.

Budaya bersih mereka wujudkan setiap pagi dengan memungut sampah yang ditemui di halaman sekolah. Dengan metoda PAKEM yang digalakkan dengan pendampingan World Vision Indonesia, kesadaran anak-anak begitu tinggi. “Tak mau kalah dengan teman yang lain. Jam 04.00 WIB subuh anak-anak sudah bangun dan minta dihidupkan genset. Anak mandi dan kemudian belajar,” cerita orangtua murid dari Bella Safira, kelas VI.

Ketua Komite Sekolah, Philipus, mengakui bahwa metode PAKEM yang dikembangkan sejak tahun 2005 di SDN 20 Balai Batangtarang, banyak membawa perubahan. Mental dan prestasi anak menjadi bagus. Kreativitas anak meningkat. Walau mereka dari lulusan SD di desa, 75 km dari ibukota kabupaten, namun bisa bersaing dengan lulusan SD lain di kota untuk bisa sekolah di SMP terbaik di Pontianak, katanya.

Metode PAKEM Meluas

Jika disimpulkan, dalam metode PAKEM itu murid terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Murid aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi murid. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik dan menyediakan pojok baca. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. Dan guru mendorong murid untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan murid dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Dari satu SD yang jadi proyek percontohan metoda PAKEM, kini sudah berkembang ke 12 SD lainnya dari 31 SD yang ada di Kecamatan Batangtarang dan Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sanggau. Pasalnya, kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Nasional di Kecamatan Batangtarang, Leonardus Ius, hasil metode PAKEM begitu nyata dan diakui orangtua.

“Anak-anak lulus 100 persen, nilai tertinggi matematika 9,25. Bahkan, SDN 20 Balai Batangtarang, menjadi satu-satunya SD yang telah berstandar nasional Kecamatan Batangtarang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dari 15 kecamatan di Kabupaten Sanggau, baru dua kecamatan yang melaksanakan PAKEM, yaitu Kecamatan Balai Batangtarang dan Kecamatan Nanga Mahap,” kata Leonardus.

Menurut Marketing Public Relation Manager World Vision Indonesia, John Nelwan, keberhasilan implementasi metoda PAKEM pada program ADP Sanggau, juga karena didukung program lainnya sepanjang tahun 1996-2008. Jadi tidak hanya sebatas memberikan pelatihan PAKEM dan manajemen berbasis sekolah kepada guru-guru, tetapi juga membantu subsidi SPP, perbaikan atap/rehab sekolah, bantuan paket buku dan alat peraga, bantuan LCD untuk Kelompok Kerja Guru. Bantuan meja-kursi untuk SD, pembangunan pagar sekolah, pembangunan gedung belajar untuk SD mini, pengadaan guru honoi untuk SD dan SMP, honor untuk pendamping kelompok baca, dan studi banding antarsekolah.

Didampingi Manager of ADP Sanggau I Made Sukariata dan Monitoring and Evaluation Coordinator World Vision Indonesia Cahyo Prihadi, John Nelwan menjelaskan, dari evaluasi dan laporan pihak terkait, dengan metoda PAKEM menyebabkan terjadi perubahan minat anak untuk ke sekolah. Anak-anak semakin tertarik untuk sekolah. Nilai dan angka kelulusan anak terus meningkat.

Dengan metoda PAKEM, memampukan guru lebih kreatif dalam mengajar. Terbentuknya kelompok kerja guru untuk bertukar pengalaman. Kini pengembangan metoda PAKEM telah diambil alih oleh Dinas Pendidikan Nasional.”Keberhasilan metode PAKEM di SDN 20 telah menghadirkan SD replikasi. World Vision Indonesia memastikan metoda ini tetap berlangsung di tiap sekolah yang dibina,” jelas John.

Keberhasilan metoda PAKEM dengan pendampingan dari ADP Sanggau ini, perlu ditularkan ke sekolah-sekolah dasar lain di Kalimantan Barat, bahkan lebih luas Indonesia. SD terpencil, ternyata juga bisa jadi contoh!
Yurnaldi

Mei 30, 2009 - Posted by | Evaluasi Pembelajaran

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: