End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Manajemen Pembelajaran

Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning

Tuntutan hidup pada masa globalisasi adalah adanya perubahan. Salah satu elemen yang perlu diubah untuk menjawab tantangan ke depan di lembaga pendidikan adalah kurikulum pendidikan nasional. KBK jawabanya. Di dalam KBK siswa dibekali tidak hanya untuk bisa bekerja, tetapi juag untuk bisa hidup. Sikap-sikap yang diperlukan untuk ini adalah keterbukaan, fleksibelitas, dan prinsip dasar hidup dalam kontekss sosial.

Dengan banyaknya tantang zaman , strategi pembelajaran memerlukan memerlukan perubahan paradigma yakni dari teaching ke learning atau penggabungan keduanya,yakni teaching and learning. Untuk itu diperlukan guru yang profesional.

Guru yang profesional adalah guru yang memiliki sepuluh kompetensi. Kesepuluh kompetensi itu adalah (1) menguasai bahan, (2) meneglola kelas, (3) mengelola program belajar-mengajar, (4) menggunakan media dan sumber, (5) mengelola interaksi belajar-mengajar, (6) menilai kemampuan siswa, (7) menguasai landasan kependidikan, (8) mengenal fungsi dan layanan BK, (9) mengenal administrasi sekolah, dan (10) memahami prinsip penelitian.

Yang perlu dicermati adalaha adanya perbaikan manajemen pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar guru lebih bersikap kreatif, dapat menciptakan iklim kompetitif  antar siswa yang dibimbingnya, serta bertanggung jawab terhadap stakeholder pendidikan, khususnya orangtua siswa dan masyarakat. Dalam pelaksanaannya sekolah dan guru harus lebih terbuka, dapat mempertanggungjawabkan setiap kegiatannya (accountable), mengoptimalkan partisipasi irang tua dan masyarakat, dan dapat mengelola sumber daya yang tersedia di sekolah dan lingkungannya untuk meningkatkan prestasi siswa.

Keberhasilan tidak harus dilihat dari pencapaian nilai ujian nasional siswa yang tinggi semata, tetapi juga aspel lain. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa IQ hanya berperan 20% dalam mendongkrak keberhasilan seseorang di dalam hidupnya, justru “Kecakapan Emosional” (EQ) dan “Kecakapan Spirituan” (SQ) yang paling besar pengaruhnya sampai mencapai 80%. Hal ini berarti bahwakecakapan lain seperti kemampuan menehan diri, mengendalikan emosi, memahami orang lain, memiliki mental untuk menerima kekalahan dan kegagalan, bersikap sabar, memiliki rasa syukur, memiliki motivasi dari yang tinggi, kreatif, berempati, dan bersikap toleran jauh lebih penting dimiliki siswa daripada sekedar nilai ujian nasional yang tinggi.

Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah CTL (Contextual Teaching and Learning). Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari faham progresivisme John Dewey. Intinya siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar disekolah. Keaktifan siswa secara individu maupun dalam kelompok merupakan obsesi hak anak untuk bermain, bersosialisasi, dan belajar hidup selaras dengan lingkungannya.

Selain teori progresivisme John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula filosofi pembelajaran kontektual. Siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan dikelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat  fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar yang lebih memberdayakan siswa . Sebuah strategi belajar tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.

Pembelajaran kontekstual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari,. Pembelajaran kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa dan tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL akan membantu siswa melalui kedelapan komponen utama CTl : melakukan hubungan bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berfikir kritis dan kreatif, memelihara/merawat pribadi siswa, mencapai standart yang tinggi dan menggunakan assesment autenty ( Johnson 2002:25 ).

Karakteristik pembelajaran kontekstual menurut Johnson (2002:24) adalah sebagai berikut :

  • Melakukan hubungan yang bermakna ( making meaningful connection )
  • Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan ( doing signifikan work )
  • Belajar yang diatur sendiri ( self regulated learning )
  • Bekerja sama ( collaboratig )
  • Berfikir kritis dan kreatif  ( critical and creative thinking )
  • Mengasuh atau memelihara pribadi siswa ( nurturing the individual )
  • Mencapai standart yang tinggi ( reaching high standarts )
  • Menggunakan penelitian autentik ( using autentik assesment )

Dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan 4 hal ( Roestiyah, 1982 ) yaitu mengusahakan keikutsertaan secara aktif siswa, menganalisa struktur materi, menganalisis urutan kerja siswa dan memberi penguatan  atau umpan balik. Guru harus meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

Dalam pembelajaran bahasa dan sastra, guru dapat memanfaatkan berbagai macam sumber yang ada di masyarakat sekitarnya. Perkembangan IPTEK dapat dimanfaatkan untuk media pembelajaran. Teknologi komunikasi berupa media cetak dan elektronik, meliputi surat kabar, majalah, brusur, buku. Media elektronik berupa, televise, radio, internet, mp3 player, CD, VCD, tape, OHP, LCD, KOmputer , dan lain-lain. Melalui internet dapat diperoleh berbagai informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa.

Melalui berbagai media tersebut siswa dapat mengapikasikan tujuh elemen penting yaitu, penemuan (inquiry), pertanyaan (questioning), konstruktivistik (constructivism), pemodelan (modeling), masyarakat belajar (learning community), penilaian autentik (authentic assement), dan refleksi (reflection) .

Mei 30, 2009 - Posted by | Manajemen Pembelajaran

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: