End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Manajemen Pembelajaran

MANAJEMEN STRATEJIK : PENGAJARAN DI KELAS VS REALITAS BISNIS

Kalau saya lakukan kilas balik, maka saya sudah mengajar kuliah Manajemen Stratejik sejak tahun 2003 di kelas program Magister Manajemen di PPM. Lalu dilanjutkan dengan program Magister Teknologi Informasi di UI sejak tahun 2004, walaupun dalam konteks sistem informasi. Di sisi lain, saya mulai menangani proyek konsultansi manajemen stratejik sejak tahun 2001, dan mulai menerapkan sendiri (pada bisnis sendiri) semua konsep itu sejak tahun 2007.

Selama itu pula, saya merasakan berbagai ketidaksinkronan antara pengajaran kuliah manajemen stratejik di kelas, dengan realitas bisnis di lapangan. Nah, catatan ringan ini saya buat sekedar untuk mencurahkan pemikiran sebagai hasil pengamatan selama kurun waktu tersebut.

Konsep manajemen stratejik memiliki berbagai pendekatan. Secara sederhana ada yang mengkategorikan atas 2 kelompok, yaitu market-based strategy (dengan mbah-nya Michael Porter) serta resource-based strategy (kelompok C K Prahalad). Bahkan Henry Mintzberg dalam bukunya “Strategy Safari” melakukan kompilasi yang lebih luas lagi. Mintzberg mengidentifikasi bahwa terdapat 10 aliran atau mazhab dalam manajemen stratejik.

Bahkan para pemikir di bidang manajemen stratejik yang berada dalam satu kampus pun bisa tidak sepaham. Karen Eisenhardt misalnya, walaupun sama-sama berasal dari Harvard Business School bersama Michael Porter, tetapi mengkritik teori manajemen stratejik Michael Porter, seperti yang dia tulis dalam bukunya ‘Competing on the Edge : Strategy as Structured Chaos”.

Di sisi lain, dinamika dunia bisnis tentu tidak peduli dengan aliran-aliran manajemen stratejik tersebut. Dunia bisnis bergerak dengan dinamikanya sendiri. Berbagai aliran manajemen stratejik bercampur di dalam dinamika tersebut. Bahkan jangan-jangan, ada yang belum diformulasikan menjadi teori formal. Seperti kata Henry Mintzberg, dunia manajemen stratejik itu ibarat seekor gajah, dan kita ini adalah para orang buta yang mencoba untuk menjelaskan definisi gajah tersebut. Maka dengan demikian, kata Mintzberg, konsep manajemen stratejik itu hanya menjelaskan secara parsial praktik bisnis yang ada di lapangan (berkaitan dengan strategi tentunya), dan tidak menjelaskan secara holistik.

Nah, sekarang ke dunia kampus, lantas bagaimana mengajarkan manajemen stratejik yang baik kepada mahasiswa ? (terutama mahasiswa yang sudah berpengalaman dengan dunia bisnis). Dengan kondisi di atas, maka tentu diskusi pada kuliah ini akan menarik. Pengalaman saya menunjukkan, pertanyaan yang paling sering muncul adalah, apakah dalam membuat perencanaan stratejik harus seperti itu? apakah ada pendekatan yang lain? … nah, menarik kan?

Ada 2 option pendekatan. Pertama, mengajarkan satu pendekatan secara mendalam, dan mahasiswa memahaminya dengan baik. Dari satu pendekatan ini, maka diharapkan mahasiswa bisa mengeksplorasi pendekatan lain dengan baik. Ini yang paling umum dilakukan, dan yang paling sering diajarkan di kelas adalah aliran market-based strategy dengan analisis SWOT-nya yang terkenal itu. Sisi positif dari pendekatan ini, mahasiswa memahami dengan baik teknik-teknik (tools) dalam satu aliran secara rinci, misalnya mampu menyusun analisis SWOT dengan baik. Tetapi sisi negatifnya adalah, membawa mahasiswa secara tidak sengaja berpikir “kaca mata kuda” yaitu satu aliran saja. Ini bisa membingungkan, apalagi kalau si mahasiswa pernah merasakan aliran manajemen stratejik yang lain pada pekerjaannya.

Pendekatan kedua adalah dengan menjelaskan berbagai aliran manajemen stratejik yang ada saat ini. Misalnya menjelaskan berbagai aliran seperti yang ada pada buku “Strategy Safari” Henry Mintzberg, di mana terdapat 10 aliran dalam manajemen stratejik. Sisi positifnya, cakrawala mahasiswa akan terbuka, dan tidak akan bersikap kaca mata kuda. Tetapi sisi negatifnya adalah, pasti pembahasan tidak akan mendetail. Dengan keterbatasan waktu yang ada, maka pembahasan akan berhenti pada tataran prinsip umum semata.

Somehow, in my humble opinion, kita butuh pendekatan tertentu dalam mengajarkan manajemen stratejik. Kita bisa membuka kuliah pada sesi pertama dengan menjelaskan bahwa banyak aliran. Dengan demikian, cakrawala mahasiswa sudah dibuka terlebih dahulu. Tetapi dalam perkuliahan, kita akan mendalami satu atau dua aliran saja secara detail sampai dengan teknik-tekniknya (tools), tidak hanya prinsip umum. Kemudian pada beberapa sesi terakhir, baru dibahas berbagai aliran tersebut pada tararan umum saja.

Mei 30, 2009 - Posted by | Manajemen Pembelajaran

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: