End_Kha Zone

Wilujeng Sumping…….

Manajemen Pembelajaran

Gedung Community Learning Newmont Diresmikan

Kamis, 20 November 2008 | 21:25 WIB

Sumber: kompas

JAKARTA, KAMIS- Mulai hari Kamis (20/11) siang tadi, gedung pembelajaran masyarakat (community learning) yang terletak di Desa Gamping Jawa, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, resmi digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Demikian siaran pers dari Newmont yang diterima Kompas.com, Kamis sore.

Berdiri di atas lahan seluas 600 m2 di kawasan Muara Kreung Aceh, fasilitas masyarakat ini dibangun atas kerja sama antara Newmont Gold Corporation dan Yayasan Gajah Sumatera (Yagasu).

Di dalam gedung ini, masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan pendidikan nonformal kelas lingkungan dan komputer untuk pelajar, serta pelatihan berbagai keterampilan bagi kelompok wanita.

Selain membangun gedung dua lantai dengan ukuran 16,5 X 5 meter itu, sejumlah program telah dilakukan Newmont dan Yagasu bagi masyarakat. Antara lain studi banding kelompok wanita dari Desa Lam Girek Aceh Besar ke sentra-sentra industri kerajinan di Jawa. Kelompok pemuda dan Kepala Desa Gampong Jawa juga difasilitasi untuk studi banding pengembangan dan manajemen ekosistem mangrove di Percut, Sumatera Utara, cagar alam pantai timur Jambi, dan pengolahan hasil mangrove di Muara Gembong Bekasi, Jawa Barat. (*)


MSH

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

Inovasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning

Tuntutan hidup pada masa globalisasi adalah adanya perubahan. Salah satu elemen yang perlu diubah untuk menjawab tantangan ke depan di lembaga pendidikan adalah kurikulum pendidikan nasional. KBK jawabanya. Di dalam KBK siswa dibekali tidak hanya untuk bisa bekerja, tetapi juag untuk bisa hidup. Sikap-sikap yang diperlukan untuk ini adalah keterbukaan, fleksibelitas, dan prinsip dasar hidup dalam kontekss sosial.

Dengan banyaknya tantang zaman , strategi pembelajaran memerlukan memerlukan perubahan paradigma yakni dari teaching ke learning atau penggabungan keduanya,yakni teaching and learning. Untuk itu diperlukan guru yang profesional.

Guru yang profesional adalah guru yang memiliki sepuluh kompetensi. Kesepuluh kompetensi itu adalah (1) menguasai bahan, (2) meneglola kelas, (3) mengelola program belajar-mengajar, (4) menggunakan media dan sumber, (5) mengelola interaksi belajar-mengajar, (6) menilai kemampuan siswa, (7) menguasai landasan kependidikan, (8) mengenal fungsi dan layanan BK, (9) mengenal administrasi sekolah, dan (10) memahami prinsip penelitian.

Yang perlu dicermati adalaha adanya perbaikan manajemen pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar guru lebih bersikap kreatif, dapat menciptakan iklim kompetitif  antar siswa yang dibimbingnya, serta bertanggung jawab terhadap stakeholder pendidikan, khususnya orangtua siswa dan masyarakat. Dalam pelaksanaannya sekolah dan guru harus lebih terbuka, dapat mempertanggungjawabkan setiap kegiatannya (accountable), mengoptimalkan partisipasi irang tua dan masyarakat, dan dapat mengelola sumber daya yang tersedia di sekolah dan lingkungannya untuk meningkatkan prestasi siswa.

Keberhasilan tidak harus dilihat dari pencapaian nilai ujian nasional siswa yang tinggi semata, tetapi juga aspel lain. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa IQ hanya berperan 20% dalam mendongkrak keberhasilan seseorang di dalam hidupnya, justru “Kecakapan Emosional” (EQ) dan “Kecakapan Spirituan” (SQ) yang paling besar pengaruhnya sampai mencapai 80%. Hal ini berarti bahwakecakapan lain seperti kemampuan menehan diri, mengendalikan emosi, memahami orang lain, memiliki mental untuk menerima kekalahan dan kegagalan, bersikap sabar, memiliki rasa syukur, memiliki motivasi dari yang tinggi, kreatif, berempati, dan bersikap toleran jauh lebih penting dimiliki siswa daripada sekedar nilai ujian nasional yang tinggi.

Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah CTL (Contextual Teaching and Learning). Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari faham progresivisme John Dewey. Intinya siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar disekolah. Keaktifan siswa secara individu maupun dalam kelompok merupakan obsesi hak anak untuk bermain, bersosialisasi, dan belajar hidup selaras dengan lingkungannya.

Selain teori progresivisme John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula filosofi pembelajaran kontektual. Siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan dikelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat  fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar yang lebih memberdayakan siswa . Sebuah strategi belajar tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.

Pembelajaran kontekstual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari,. Pembelajaran kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa dan tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL akan membantu siswa melalui kedelapan komponen utama CTl : melakukan hubungan bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berfikir kritis dan kreatif, memelihara/merawat pribadi siswa, mencapai standart yang tinggi dan menggunakan assesment autenty ( Johnson 2002:25 ).

Karakteristik pembelajaran kontekstual menurut Johnson (2002:24) adalah sebagai berikut :

  • Melakukan hubungan yang bermakna ( making meaningful connection )
  • Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan ( doing signifikan work )
  • Belajar yang diatur sendiri ( self regulated learning )
  • Bekerja sama ( collaboratig )
  • Berfikir kritis dan kreatif  ( critical and creative thinking )
  • Mengasuh atau memelihara pribadi siswa ( nurturing the individual )
  • Mencapai standart yang tinggi ( reaching high standarts )
  • Menggunakan penelitian autentik ( using autentik assesment )

Dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan 4 hal ( Roestiyah, 1982 ) yaitu mengusahakan keikutsertaan secara aktif siswa, menganalisa struktur materi, menganalisis urutan kerja siswa dan memberi penguatan  atau umpan balik. Guru harus meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

Dalam pembelajaran bahasa dan sastra, guru dapat memanfaatkan berbagai macam sumber yang ada di masyarakat sekitarnya. Perkembangan IPTEK dapat dimanfaatkan untuk media pembelajaran. Teknologi komunikasi berupa media cetak dan elektronik, meliputi surat kabar, majalah, brusur, buku. Media elektronik berupa, televise, radio, internet, mp3 player, CD, VCD, tape, OHP, LCD, KOmputer , dan lain-lain. Melalui internet dapat diperoleh berbagai informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa.

Melalui berbagai media tersebut siswa dapat mengapikasikan tujuh elemen penting yaitu, penemuan (inquiry), pertanyaan (questioning), konstruktivistik (constructivism), pemodelan (modeling), masyarakat belajar (learning community), penilaian autentik (authentic assement), dan refleksi (reflection) .

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

Refleksi terhadap Manajemen Kelas dan Pengajaran yang Efektif

(Sumber: EENET Asia Newsletter)

Bagaimana guru-guru memahami kedisiplinan dan bentuk-bentuk manajemen perilaku lain tergantung pada bagaimana mereka melihat pekerjaan mereka sebagai seorang guru dan sejauh mana mereka meyakini bahwa semua anak dapat belajar. Perilaku di kelas dan hasil belajar banyak dipengaruhi oleh kualitas pengajaran.

Guru menguasai banyak faktor yang mempengaruhi motivasi, prestasi dan perilaku siswa mereka. Lingkungan fisik di kelas, level kenyamanan emosi yang dialami siswa dan kualitas komunikasi antar guru dan siswa merupakan faktor penting yang bisa memampukan atau menghambat pembelajaran yang optimal.

Guru bertanggung jawab untuk berbagai siswa, termasuk mereka dari keluarga yang tidak mampu atau kurang beruntung, siswa yang mungkin harus bekerja setelah sekolah, atau mereka yang berasal dari kelompok minoritas etnis, agama atau bahasa atau mereka dengan berbagai kesulitan atau kecacatan belajar. Tak satupun dari situasi atau faktor ini harus menyebabkan masalah pendidikan, namun anak-anak ini mungkin beresiko mendapatkan pengalaman sekolah yang negatif dan tak bermakna jika guru tidak responsif terhadap kebutuhan dan kemampuan mereka atau mampu menggunakan pengajaran dan strategi kelas yang efektif dan disesuaikan menurut individu.

Untuk mengurangi atau menghilangkan hambatan belajar dan partisipasi siswa diperlukan pengetahuan mendalam tentang dari mana asal hambatan ini dan bagaimana dan kapan hambatan ini muncul. Penting bagi guru untuk memahami latar belakang sosial ekonomi dan keluarga siswa agar dapat memahami faktor non akademis yang mempengaruhi pembelajaran mereka. Banyak faktor sosial yang mempengaruhi belajar tidak dapat langsung diubah, tapi pemahaman faktor-faktor ini akan memampukan guru dalam memahami ‘kegagalan’ atau ‘perilaku tak pantas’ siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang mengurangi bukan menambah efek faktor ini. Guru yang baik menganggap ini tantangan pribadi dan profesional.

Namun, guru-guru juga perlu secara kritis berefleksi terhadap apa yang terjadi di dalam kelas karena perilaku siswa seringkali merupakan reaksi dari faktor-faktor di dalam sekolah. Guru perlu berefleksi tentang lingkungan belajar yang telah mereka ciptakan dan apakah lingkungan ini melibatkan semua anak secara aktif dan bermakna. Beberapa hal yang kita lakukan sebagai guru bisa membantu belajar, beberapa di antaranya malahan tak berguna dan bahkan ada yang membahayakan!

Ketika mencari penjelasan untuk rendahnya prestasi dan masalah perilaku, guru perlu disiapkan terlebih dahulu mengingat keterbatasan di lingkungan dan proses belajar daripada di dalam diri anak. Mereka perlu merefleksikan apa yang mereka ajarkan dan bagaimana mereka mengajar. Apa yang mereka katakan dan lakukan di kelas untuk membangun pemahaman di antara siswa? Bagaimana mereka memperkenalkan topik-topik baru? Bagaimana mereka menghubungkan pengetahuan baru dengan apa yang telah diketahui anak?

Guru cenderung menunjuk pada kelemahan anak daripada memuji mereka karena upaya dan peningkatan (kecil). Untuk banyak anak ini sangat mengecilkan hati, dan bisa mengakibatkan perasaan rendah diri dan kegagalan. Guru perlu menyadari hal ini.

Pengajaran pada umumnya adalah kegiatan kelompok, sedangkan pembelajaran lebih kepada kegiatan individu dan tidak semua siswa belajar dengan kecepatan yang sama atau dengan cara yang sama.

Guru perlu mempertimbangkan berapa banyak kebijakan dan praktek yang mengarah pada labelling siswa. Penelitian tentang interaksi guru-siswa menunjukkan bagaimana guru sering berperilaku berbeda kepada individu siswa berdasarkan pada persepsi mereka sendiri tentang kemampuan siswa. Mereka yang diberi label “berprestasi rendah” atau “siswa lamban belajar” sering menerima sedikit kesempatan dibanding orang lain untuk berpartisipasi, dan mereka yang dipandang sebagai “tak disiplin” diperlakukan sedemikian rupa, bahkan ketika mereka berperilaku baik. Guru perlu berefleksi pada asumsi dan ekspektasi mereka dengan meminta feedback dari anak-anak tentang proses belajar-mengajar dan tentang apa yang terjadi di kelas pada umumnya. Semua guru harus melakukan ini seperti yang terungkap pada mereka apa yang dikenali siswa sebagai karekteristik yang berkualitas pada guru, yang hampir tanpa pengecualian berkaitan dengan kemampuan guru untuk mengenali mereka sebagai individu dengan cara positif, memperlakukan mereka dengan adil dan dengan hormat, membuat pelajaran menarik dan beragam, memberikan dorongan dan mengatakan agar mereka meyakini diri mereka sendiri dan kemampuannya.

Ini berarti bahwa hubungan guru-siswa dan iklim kelas yang positif merupakan faktor penting dalam mempengaruhi bagaimana anak mendapat pengalaman bersekolah. Guru tidak hanya mengajar pengetahuan dan keterampilan, mereka juga membantu siswa untuk menjelaskan siapa mereka. Dari interaksi sehari-hari dengan guru, anak belajar mengetahui apakah mereka penting atau tidak, pintar atau lambat, disukai atau tak disukai. Seorang guru mengirimkan pesan-pesan ini melalui perilakunya, gesti, dan kata-kata. Dari pesan yang diterima anak ini mereka memutuskan untuk meresikokan partisipasi di kegiatan kelas atau tidak. Guru harus mengetahui bahwa keterlibatan tersebut tidak selalu datang dengan mudah dan bahwa ini memerlukan sebuah lingkungan kelas yang nyaman secara psikologis dan dipercaya.
Motivasi untuk belajar dan untuk berperilaku berdasarkan pada minat. Jika guru berhasil merangsang keingintahuan di antara siswa, mereka akan juga menemukan kesediaan di antara siswa untuk belajar dan berperilaku baik. Pengajaran yang memuaskan keingintahuan anak jauh lebih memotivasi dengan efektif daripada memaksa mereka untuk mengerjakan tugas-tugas yang mereka anggap tidak relevan dan membosankan. Oleh karena itu cara guru berinteraksi dengan anak dan cara mengajarnya itu penting dalam mencegah perilaku tak pantas.

Namun, walau upaya interaksi positif itu, masalah perilaku mungkin masih terjadi dan guru harus disiapkan untuk ini dengan berbagai teknik berkisar dari konseling, memfokuskan pada pemahaman, bersama-sama mengatasi masalah perilaku acuh yang tak pantas sambil memberdayakan perilaku yang pantas. Yang penting adalah bahwa guru harus selalu memahami bahwa perilakunyalah yang tak pantas, bukan anaknya! Masalahnya apakah guru dapat melihat melampaui perilaku yang tak pantas itu dan melihat seorang manusia yang patut dihargai. Dengan lulus tes ini akan membuat guru lebih dapat dipercaya, tidak hanya sebagai guru tapi juga, dan lebih penting lagi, sebagai manusia penuh kasih yang tulus.

Guru mungkin terlalu memfokuskan pada apa yang harus dilakukan ketika anak berperilaku tak pantas. Teknik disiplin sering dipahami oleh guru sebagai sesuatu yang terpisah dari teknik pengajaran, hanya digunakan jika dan ketika masalah muncul saja. Namun, manajemen kelas merupakan bagian integral pengajaran efektif yang mencegah masalah perilaku melalui perencanaan, pengelolaan, dan penataan kegiatan belajar yang lebih baik, pemberian materi pengajaran yang lebih baik, dan interaksi guru siswa yang lebih baik, membidik pada pengoptimalan keterlibatan dan kerjasama siswa dalam belajar. Teknik kontrol perilaku atau pendisiplinan pada akhirnya akan tidak terlalu efektif karena teknik tersebut tidak mendorong perkembangan disiplin diri atau tanggung jawab anak sendiri atas tindakannya. Siswa tidak otomatis menjadi disiplin pada usia tertentu atau melalui kontrol atau paksaan. Nilai-nilai dan ketrampilan sosial harus diajarkan dan dicontohkan oleh guru. Belajar untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab dan membuat pilihan-pilihan yang memerlukan praktek, termasuk membuat kesalahan. Inilah yang dinamakan manajemen kelas dan pengajaran yang efektif. Dan itulah, tidak hanya memberikan kurikulum, adalah tujuan pendidikan!

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

Seminar Sehari Manajemen Pengembangan dan Pemanfaatan Media Radio dan TV Dalam Proses Pembelajaran


March 5, 2007 by redaksi

Universitas Gunadarma bekerjasama dengan UGRadio dan UGTV, menyelenggarakan seminar sehari dengan tema, “Manajemen Pengembangan dan Pemanfaatan Media Radio dan TV Dalam Proses Pembelajaran?. Seminar berlangsung Rabu (14/2) dan bertempat di Auditorium D 460. Sekitar 250 peserta yang hadir terdiri dari; mahasiswa dan dosen Universitas Gunadarma, mahasiswa STI&K Jakarta dan AkomRTVi. Selain itu hadir pula peserta dari Radio Megaswara, RCTI, Pustekom dan tamu undangan lainnya.

TV dan radio sebagai media pembelajaran sudah bukan barang baru lagi. Tapi bagaimana teknologi media TV dan Radio ini dapat dikembangkan secara optimal guna mendukung proses pembelajaran di kampus, itulah inti persoalan yang hendak diangkat oleh Universitas Gunadarma dalam seminar sehari, hasil kerjasama dengan UGTV dan UGRadio. Dengan adanya pengembangan ini diharapkan peran media TV dan Radio dalam mendukung proses pembelajaran di kampus semakin meningkat dan berkualitas.

Media Komunitas

Sebagai universitas berbasis teknologi informasi, Universitas Gunadarma memiliki media komunitas berupa UGTV dan UGRadio. Media ini dapat ditangkap siarannya secara terbatas di lingkungan kampus. Sebagai fasilitas pendukung, media TV dan Radio ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung proses pembelajaran. Meski tak dapat menggantikan peran dosen di dalam kelas, namun kehadirannya sangat memberikan warna tersendiri serta mengisi ruang kosong yang selama ini terbuang dengan sia-sia. Saat santai atau sedang tak ada tugas, dapat dimanfaatkan untuk menyaksikan siaran TV atau mendengarkan siaran radio yang berisi siaran tentang program pendidikan. Inilah peran TV dan Radio yang cukup menonjol dan tak tergantikan oleh peran dosen atau guru.

Dan peran seperti itu coba ditingkatkan lagi dari sisi pengembangan manajemen maupun pemanfaatan teknologinya lewat seminar sehari yang mengambil tema Manajemen Pengembangan dan Pemanfaatan Media Radio dan TV Dalam Proses Pembelajaran Seminar dimulai pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 15.45. Hadir pula secara khusus, Rektor Universitas Gunadarma yang berkenan membuka acara sekaligus memberikan kata sambutan. Seminar dengan diawali laporan oleh Ketua Pelaksana seminar, Dr.Aries Budi Setyawan. Menurutnya, seminar bertujuan untuk mengembangkan media TV dan Radio sebagai salah satu sarana pendukung proses belajar mengajar. Selain itu juga untuk semakin mengoptimalkan peran TV dan Radio sebagai fasilitas pendukung yang saat ini sudah dimiliki oleh Universitas Gunadarma. “Seminar terbagi dalam dua sesi, yakni sesi 1 berupa diskusi panel dan tanya jawab. Selanjutnya sesi 2 juga berisi diskusi dan demo penyiaran radio yang dilanjutkan permainan dan pembagian Door Prize? ujar Dr.Aries.

Usai laporan Ketua Pelaksana, Rektor Universitas Gunadarma, Prof. Dr.ES. Margianti, SE. MM, pun memberikan kata sambutan dan membuka secara resmi acara seminar. Dalam kata sambutannya, Rektor mengucapkan selamat datang kepada segenap peserta yang telah berkenan hadir untuk mengikuti acara seminar. Dalam kesempatan itu pun rektor menghimbau, bagi yang baru pertama kali hadir di Universitas Gunadarma, diharapkan kehadiran tersebut tidak hanya sekali ini saja, melainkan dapat hadir kembali di masa-masa yang akan datang. “Sebagaimana telah dinyatakan oleh Ketua Pelaksana, seminar ini adalah untuk mengembangkan potensi media TV dan Radio yang telah ada guna mendukung proses pembelajaran. Karena itu seminar ini sangat tepat dan berguna sekali ujar Rektor.Lebih lanjut dikatakan Rektor, media TV dan Radio yang dimiliki Universitas Gunadarma adalah media komunitas yang siarannya hanya bisa ditangkap secara terbatas di lingkungan kampus saja. “Sebenarnya saya ingin menonton dan mendengarkan siaran di rumah. Tapi hal itu tidak mungkin karena sarana ini merupakan media komunitas yang memiliki jarak siaran tidak lebih sekitar 5 km tutur Rektor. Dikatakan Rektor lagi, dengan adanya seminar ini, media TV dan Radio yang sudah ada diharapkan dapat meningkat perannya dalam upaya mendukung proses pembelajaran. Tentu saja dengan menjalin hubungan dan kerja sama dengan “saudara sepupu yakni AkomRTVi dan Radio Megaswara.

Pengembangan Program

Selesai sambutan dan pembukaan secara resmi oleh Rektor, seminar memasuki acara inti yakni diskusi panel sesi 1 yang dipandu oleh moderator Dra Ati Harmoni, MM. Dalam diskusi panel sesi 1 ini tampil empat pembicara, yakni; Suwanto Suwandi dari AkomRTVi, Joko Warseno dari Pustekom, Dr. Deny Syarif dari UG dan Saldi Nurjaman dari RCTI. Tampil sebagai pembicara pertama, Suwanto Suwandi dari AkomRTVi. Dikatakan Suwanto, Pemanfaatan Radio dan TV di negara maju untuk pembelajaran bukan barang baru. Dilakukan lewat udara atau cukup dengan produk audio video yang diputar langsung di kelas di depan siswa atau mahasiswa. Mata pelajaran atau mata kuliah pun dipilih yang layak dan sesuai untuk diradiokan atau ditelevisikan.“Masalahnya tidak semua mata kuliah dapat diradiokan atau ditelevisikan. Sebab tiap mata kuliah punya karakteristik, visual image yang berbeda satu sama lain, terang Suwanto. Lebih lanjut dikatakan Suwanto, pemanfataan Radio dan TV untuk media pembelajaran tidak mungkin bisa ditangani sendiri. Dengan kata lain, lembaga pendidikan tidak akan mampu melaksanakan sendiri tanpa melibatkan pihak luar, baik dengan stasiun radio dan TV atau rumah produksi yang berkualitas, dari dalam i maupun luar negeri. Bila tahap pertama rencana pemanfaatan media radio dan TV dengan program yang diperoleh dari organisasi yang sudah ada (syndication, network, local production), maka unit kerja terkait urusan ini harus tercantum dalam struktur susunan pelaksana.

“Yang tak kalah penting adalah menyusun dan mengusulkan anggaran berdasarkan rencana kerja, ujarnya. Penyusunan anggaran bukan suatu yang gampang. Baik secara hukum maupun teknis. Anggaran dapat diusulkan manakala memang ada landasan hukum yang memayunginya. “Organisasi apa, lembaga apa yang punya kegiatan ini, akte pendirian dan lainnya. Awal paling sulit justru penghitungan kegiatan secara makro maupun mikro. Terlewatnya permintaan anggaran untuk sebuah kegiatan, akan mempengaruhi seluruh proses kerja, tandasnya. Hal senada juga dikatakan oleh Joko Warseno dari Pustekom yang tampil sebagai pembicara kedua. Menurut Joko, pemanfaatan Radio dan TV sebagai media pembelajaran sudah jamak di negara-negara maju. Bahkan negara tetangga seperti Thailand sudah menjadikan media TV sebagai sumber utama media pembelajaran. “Fungsi TV sebagai media pembelajaran memiliki tiga ciri, yakni sebagai sumber utama, pendamping dan pengayaan. Indonesia memanfaatkan media TV ini baru pada tahap pendamping dan pengayaan, belum sebagai sumber utama, jelas Joko.

Ditambahkan Joko, pemanfaatan TV dan Radio sebagai media pembelajaran tak akan bisa menggantikan peran guru atau dosen di kelas. Fungsi guru tetap yang utama. Namun untuk membantu dalam proses belajar mengajar, media TV dan Radio dapat dijadikan sebagai sumber utama di samping sumber lain yang juga ikut mendukung keberhasilan proses belajar. Setidaknya ada 14 langkah dalam pengembangan program TV dan radio sebagai media pembelajaran yang perlu dicermati. Ke-14 langkah dimaksud adalah; ide, sasaran, tujuan, pengkajian, sinopsis, treatment, naskah, pengkajian naskah, produksi, preview, uji coba, revisi, pembuatan bahan penyerta dan penyiaran. “Untuk pengembangan program media TV dan Radio yang diperuntukkan bagi satu sekolah atau perguruan tinggi seperti Universitas Gunadarma, sebenarnya tidak terlalu sulit karena sifatnya homogen. Tapi kalau untuk skala lebih luas lagi, misalnya untuk seluruh siswa SLTA atau seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia tentu akan lebih sulit karena sifatnya heterogen, papar Joko pula.

Pengembangan Teknologi

Pembicara ketiga, Dr. Deny Syarif dari Universitas Gunadarma mencoba mengkaji dari sisi pengembangan teknologi TV dan radio sebagai media pembelajaran. Dikatakan Deny, dari sisi teknologi pengembangan media TV dan Radio sangat dimungkinkan, sebagaimana media lain. Tujuannya tidak lain adalah tersedianya fasilitas komunikasi bagi pendidikan yang kondusif, murah, mudah dan efisien. “Peran media TV dan Radio adalah sebagai media transmisi untuk menyampaikan informasi (video, audio, data atau teks) dari suatu tempat ke tempat lain. Sistem komunikasinya adalah satu arah, kata Deny. Hal inilah, kata Deny lagi, yang membuat titik lemah media TV dan Radio. Karena tidak ada feedback antara TV dan Radio dengan penonton. Karena itu perlu dipikirkan pengembangnnya agar memiliki nilai tambah di kemudian hari. Salah satu pengembangannya adalah dengan menambah fasilitas yang memungkinkan pengiriman teks dan gambar yang dapat disimpan kedalam memory komputer di bagian penerima. “Ini yang bisa dikembangkan dari media TV dan Radio dalam tahap awal. Dengan adanya media penyimpanan, siswa atau mahasiswa dapat memperoleh materi sebagai panduan atau pegangan belajar lewat mengcopy materi yang telah disimpan di dalam memory, terang Deny.

Pembicara berikutnya tampil Saldi Nurjaman yang sosoknya sering muncul dalam acara sergap pagi di RCTI. Saldi yang tergolong public figure tersebut cukup membuat acara seminar semakin bergairah. Apalagi kalau bukan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan terkadang lucu.

Pada kesempatan tersebut, Saldi mencoba menyoroti tema seminar dari sisi Personality sebagai Penyiar TV. Menurut Saldi, untuk menjadi penyiar TV memang perlu adanya personal yang memiliki keahlian tertentu. Tapi itu tidak mutlak, yang penting adalah bagaimana memiliki rasa percaya diri. Sebelum berakhir seminar sesi 1, sejenak acara diisi dengan penyerahan cindera mata kepada masing-masing pembicara. Selain itu, acara diisi pula dengan serah terima alat penangkal petir dari Dr. Djuheri kepada Rektor UG. Seperti diketahui Dr. Djuheri adalah alumni Program Doktor Ilmu Ekonomi UG . Beliau adalah penemu dan pencipta alat penangkal petir dan saat ini tercatat sebagai Guru Besar Universitas Nasional Jakarta.

Setelah istirahat, shalat dan makan siang, tepat pukul 13.00, acara seminar dilanjutkan lagi. Seminar sesi 2 menampilkan satu orang narasumber, Alvin Permadi Hambali dari Radio Megaswara dengan moderator Drs. Ichwan Suyudi, MM. Lewat makalahnya yang berjudul Manajemen Program Radio Megaswara, Alvin mencoba bertukar pengalaman dengan para peserta. Dengan adanya tukar pengalaman ini diharapan media TV dan Radio yang dimiliki UG dapat berkembang sebagaimana mestinya. Selesai presentasi Alvin Permadi Hambali, acara dilanjutkan dengan demo dan simulasi siaran radio yang dibawakan oleh Tim dari Radio Megaswara. Dalam demo tersebut para peserta memperoleh informasi tentang tata cara siaran radio serta cara-cara penyiar dalam melaporkan suatu berita atau kejadian dari tempat lain. Seminar pun diakhiri dengan acara permainan dan pembagian doorprize oleh panitia.

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

Pembelajar yang Buruk

by: Uyung Sulaksana

Ciri pertama dari pembelajaran sejati adalah adanya hasrat ingin-tahu dan ketakjuban. Kedua, pengalaman keterbukaan terhadap kemungkinan – kemungkinan baru. Yang ketiga adalah adanya kesadaran bahwa proses pencarian jawaban adalah lebih penting daripada jawaban itu sendiri. Akhirnya, adanya usaha pendekatan terhadap lingkungan yang punya ciri-ciri terbuka terhadap eksperimentasi: upaya memperoleh informasi, analisa informasi tersebut, dan mencari hubungan dan keterkaitan baru.

Anak – anak pada usia yang sangat muda adalah pembelajar yang sangat baik. Hubungan mereka dengan lingkungannya diwarnai keterbukaan, keingintahuan, dan rasa ketakjuban. Anak terlibat dalam proses eksperimentasi yang kaya, memperoleh pemahaman baru yang mengalir dari keterbukaan terhadap umpan balik ketika berinteraksi dengan lingkungan mereka.

Cara seorang anak mengalami umpan balik sebenarnya adalah model berfungsinya sistem kehidupan. Manusia dewasa sangat memperhatikan respon lingkungan terhadap perilaku mereka. Mereka cepat belajar untuk menciptakan hubungan sebab dan akibat. Hubungan anak dengan lingkungannya lebih bersifat main – main dan menyenangkan, serta tidak merasa kecil hati ketika sebuah percobaan gagal. Kalau kegagalan terjadi, mereka mencoba lagi.

Bandingkan perilaku anak – anak ini dengan pengalaman Anda sendiri dalam mengamati perilaku orang – orang dalam organisasi ketika dihadapkan pada kemungkinan baru, sudut pandang yang berbeda, dan umpan balik. Sebagai orang dewasa, kita adalah pembelajar yang buruk, bahkan ada yang menyatakan bahwa dalam belajar, kita lebih buruk dari binatang dewasa. Untuk memahami mengapa demikian, kita harus mempelajari pengaruh – pengaruh yang membentuk hubungan kita dengan pembelajaran, sebagai orang dewasa.

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

Karakteristik Organisasi Pembelajar


Uyung Sulaksana

Sebuah organisasi tak akan pernah bisa banyak melakukan pembelajaran hingga dia menciptakan sebuah lingkungan yang para individunya bisa belajar. Mungkinkah itu terjadi? Adakah kemungkinan bahwa kita selama ini telah menciptakan organisasi-organisasi yang secara sistematis merenggut hampir apa saja yang hidup, kreatif, alami, dan vital dalam diri seseorang untuk kemudian mematikannya? Bagaimana itu bisa terjadi?

Organisasi pembelajar dibangun diatas asumsi kompetensi yang didukung oleh 4 ciri lain: curiosity (keingintahuan), forgiveness (pemberian ruang maaf), trust (kepercayaan) dan togetherness (kebersamaan).  Asumsi kompetensi artinya bahwa setiap individu diharapkan melakukan pekerjaannya sampai pada batas kompetensinya dengan bimbingan minimal. Gagasan ini merupakan inti dari konsep “the professional” . Asumsi kompetensi dalam organisasi menjadi sangat menarik di mata seorang talen penuh bakat. Ini adalah faktor penting bagi siapa saja yang bermaksud menarik perhatian talen-talen terbaik.

Selama ini banyak organisasi berjalan di atas asumsi inkompetensi. Ciri asumsi ini adalah adanya kontrol dan komando, aturan dan prosedur-prosedur, lapisan-lapisan kuasa manajemen dan piramida kekuasaan. Semua itu menuntut banyak biaya. Sebaliknya, asumsi kompetensi menganjurkan flat organization (organisasi dengan hanya satu level kepemimpinan; tidak hirarkis), dimana ada lebih sedikit pengawas yang mengawasi pengawas lain. Organisasi seperti ini jauh lebih responsif, efisien dan efektif. Organisasi ini tetap memandang penting dilakukannya training di masa-masa awal, akulturasi cara pandang dan nilai-nilai organisasi dan beberapa bentuk kriteria kualifikasi sebelum seseorang diterima bekerja. Hanya dalam organisasi-organisasi seperti ini kebiasaan  belajar dimulai lebih awal. Kompetensi saja, meski hal ini berarti adanya banyak proses pembelajaran sebelumnya, tidak cukup untuk melahirkan kebiasaan belajar. Dalam proses itu harus ada rasa keingintahuan (curiosity). Lihatlah bagaimana seorang anak kecil belajar. Pertanyaannya tidak habis-habis. Keingintahuannya seolah tidak pernah terpuaskan. Tetapi keingintahuan tidaklah selesai dengan pertanyaan. Pertanyaan membutuhkan jawaban dan orang yang benar-benar ingin tahu akan mencari jawaban-jawaban. Hal ini seringkali perlu eksperimentasi. Proses inilah yang didorong untuk dilaksanakan dalam organisasi pembelajar, dengan syarat terdapat asumsi kompetensi dan pemberian wewenang untuk melakukan eksperimen.

Karena eksperimen bisa saja gagal, pemberian ruang maaf menjadi penting. Eksperimen-eksperimen yang tidak sukses mesti dipandang sebagai bagian dari proses belajar, sebagai pelajaran yang diambil hikmahnya, bukan sebagai kegagalan. Kita juga bisa belajar dari eksperimen-eksperimen yang sukses. Bentuk pembelajaran yang terakhir ini bukan untuk dimaafkan melainkan untuk dirayakan. Sebuah perusahaan yang terkenal atas dorongannya terhadap eksperimentasi secara terus-menerus di semua level dan atas apresiasinya atas kesuksesan adalah 3M. Perusahaan ini selain memberi imbalan pada yang sukses, juga berterima kasih pada mereka yang mencoba bereksperimen tetapi tidak berhasil. Dua aspek ini amat penting dalam organisasi pembelajar.

Tidak ada satu pun dari hal-hal ini, yaitu kompetensi, keingintahuan, pemberian ruang maaf atau perayaan kesuksesan, yang dapat menumbuhkan  sebuah organisasi pembelajar jika tidak ada kepercayaan (trust). Seseorang bisa jadi sangat memiliki kompetensi, tetapi kita tidak akan setuju bahwa dia berkompeten kecuali kita percaya padanya.  Tentu sulit mempercayai seseorang yang kita tidak kenal atau yang kita tidak pernah melihatnya bekerja. Seseorang yang hanya kita ketahui namanya melalui memo bukanlah orang yang tepat untuk pengambilan resiko. Bagi organisasi pembelajar, implikasi-implikasi dari fakta tentang manusia yang sederhana ini sangatlah banyak. Berapa banyak orang yang dapat dikenal dengan cukup baik agar bisa dipercaya? Kepada jawaban atas pertanyaan tersebut bergantunglah seluruh desain dan struktur perusahaan.

Salah satu solusinya adalah kebersamaan. Sedikit sekali, itupun jika ada, masalah-masalah bisnis saat ini yang bisa ditangani oleh satu orang saja yang bekerja sendirian. Keingintahuan, eksperimen dan pemberian ruang maaf memang harus dibagi bersama. Orang yang belajar sendiri biasanya merupakan pembelajar yang lambat dan buruk, sementara para pembelajar yang bekerjasama bisa saling belajar dan bersinergi. Kebutuhan akan adanya kebersamaan, baik untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau untuk mendorong dilakukannya eksplorasi yang penting bagi setiap organisasi yang sedang tumbuh, menciptakan kondisi saling mempercayai. Sebaliknya, saling percaya dapat meningkatkan kebersamaan.

Kelompok yang terlalu besar untuk bisa merasakan kebersamaan atau yang tidak punya tujuan bersama yang mampu mengikat para anggotanya sulit menciptakan saling-percaya. Jika hal itu terjadi, akan ada orang-orang yang dengan cepat memaksakan kembali sistem kontrol dan pengarahan dari atas, menganggap mereka yang di bawahnya tidak memiliki kompetensi (assumption of incompetence), menghambat eksperimentasi dan tidak mau memberi ruang maaf. Kondisi seperti ini akan menghambat kreatifitas, juga membuat pembelajaran sulit terjadi.

Meski ada kepercayaan dan kebersamaan, organisasi pembelajar bukanlah tempat nyaman bagi para pimpinan. Ini adalah tempat yang posisinya terbalik, di mana porsi kekuasaan lebih banyak terletak di “pinggiran”, bukan di pusat. Dalam budaya seperti ini, kekuasaan yang dipaksakan tidak akan berjalan mulus. Organisasi ini ditegakkan bersama dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang sama, oleh orang-orang yang punya komitmen pada orang lain dan pada tujuan bersama. Ini merupakan metode kontrol yang jauh lebih longgar.

Cara menjalankan organisasi yang tidak lazim ini memerlukan teori yang kuat untuk mendukung argumentasinya; dalam hal ini, teori pembelajaran. Pembelajaran yang sebenarnya tidaklah persis seperti apa yang kita alami di masa kecil. Pembelajaran tidaklah sekedar menghafal fakta-fakta, latihan dengan mengulang-ulang materi, atau menghafal nilai-nilai tradisional. Meskipun kegiatan-kegiatan tersebut mungkin perlu dalam pembelajaran, akan tetapi itu hanya mencakup sebagian kecil dari proses yang lebih besar.

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

MANAJEMEN STRATEJIK : PENGAJARAN DI KELAS VS REALITAS BISNIS

Kalau saya lakukan kilas balik, maka saya sudah mengajar kuliah Manajemen Stratejik sejak tahun 2003 di kelas program Magister Manajemen di PPM. Lalu dilanjutkan dengan program Magister Teknologi Informasi di UI sejak tahun 2004, walaupun dalam konteks sistem informasi. Di sisi lain, saya mulai menangani proyek konsultansi manajemen stratejik sejak tahun 2001, dan mulai menerapkan sendiri (pada bisnis sendiri) semua konsep itu sejak tahun 2007.

Selama itu pula, saya merasakan berbagai ketidaksinkronan antara pengajaran kuliah manajemen stratejik di kelas, dengan realitas bisnis di lapangan. Nah, catatan ringan ini saya buat sekedar untuk mencurahkan pemikiran sebagai hasil pengamatan selama kurun waktu tersebut.

Konsep manajemen stratejik memiliki berbagai pendekatan. Secara sederhana ada yang mengkategorikan atas 2 kelompok, yaitu market-based strategy (dengan mbah-nya Michael Porter) serta resource-based strategy (kelompok C K Prahalad). Bahkan Henry Mintzberg dalam bukunya “Strategy Safari” melakukan kompilasi yang lebih luas lagi. Mintzberg mengidentifikasi bahwa terdapat 10 aliran atau mazhab dalam manajemen stratejik.

Bahkan para pemikir di bidang manajemen stratejik yang berada dalam satu kampus pun bisa tidak sepaham. Karen Eisenhardt misalnya, walaupun sama-sama berasal dari Harvard Business School bersama Michael Porter, tetapi mengkritik teori manajemen stratejik Michael Porter, seperti yang dia tulis dalam bukunya ‘Competing on the Edge : Strategy as Structured Chaos”.

Di sisi lain, dinamika dunia bisnis tentu tidak peduli dengan aliran-aliran manajemen stratejik tersebut. Dunia bisnis bergerak dengan dinamikanya sendiri. Berbagai aliran manajemen stratejik bercampur di dalam dinamika tersebut. Bahkan jangan-jangan, ada yang belum diformulasikan menjadi teori formal. Seperti kata Henry Mintzberg, dunia manajemen stratejik itu ibarat seekor gajah, dan kita ini adalah para orang buta yang mencoba untuk menjelaskan definisi gajah tersebut. Maka dengan demikian, kata Mintzberg, konsep manajemen stratejik itu hanya menjelaskan secara parsial praktik bisnis yang ada di lapangan (berkaitan dengan strategi tentunya), dan tidak menjelaskan secara holistik.

Nah, sekarang ke dunia kampus, lantas bagaimana mengajarkan manajemen stratejik yang baik kepada mahasiswa ? (terutama mahasiswa yang sudah berpengalaman dengan dunia bisnis). Dengan kondisi di atas, maka tentu diskusi pada kuliah ini akan menarik. Pengalaman saya menunjukkan, pertanyaan yang paling sering muncul adalah, apakah dalam membuat perencanaan stratejik harus seperti itu? apakah ada pendekatan yang lain? … nah, menarik kan?

Ada 2 option pendekatan. Pertama, mengajarkan satu pendekatan secara mendalam, dan mahasiswa memahaminya dengan baik. Dari satu pendekatan ini, maka diharapkan mahasiswa bisa mengeksplorasi pendekatan lain dengan baik. Ini yang paling umum dilakukan, dan yang paling sering diajarkan di kelas adalah aliran market-based strategy dengan analisis SWOT-nya yang terkenal itu. Sisi positif dari pendekatan ini, mahasiswa memahami dengan baik teknik-teknik (tools) dalam satu aliran secara rinci, misalnya mampu menyusun analisis SWOT dengan baik. Tetapi sisi negatifnya adalah, membawa mahasiswa secara tidak sengaja berpikir “kaca mata kuda” yaitu satu aliran saja. Ini bisa membingungkan, apalagi kalau si mahasiswa pernah merasakan aliran manajemen stratejik yang lain pada pekerjaannya.

Pendekatan kedua adalah dengan menjelaskan berbagai aliran manajemen stratejik yang ada saat ini. Misalnya menjelaskan berbagai aliran seperti yang ada pada buku “Strategy Safari” Henry Mintzberg, di mana terdapat 10 aliran dalam manajemen stratejik. Sisi positifnya, cakrawala mahasiswa akan terbuka, dan tidak akan bersikap kaca mata kuda. Tetapi sisi negatifnya adalah, pasti pembahasan tidak akan mendetail. Dengan keterbatasan waktu yang ada, maka pembahasan akan berhenti pada tataran prinsip umum semata.

Somehow, in my humble opinion, kita butuh pendekatan tertentu dalam mengajarkan manajemen stratejik. Kita bisa membuka kuliah pada sesi pertama dengan menjelaskan bahwa banyak aliran. Dengan demikian, cakrawala mahasiswa sudah dibuka terlebih dahulu. Tetapi dalam perkuliahan, kita akan mendalami satu atau dua aliran saja secara detail sampai dengan teknik-tekniknya (tools), tidak hanya prinsip umum. Kemudian pada beberapa sesi terakhir, baru dibahas berbagai aliran tersebut pada tararan umum saja.

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

Inspirasi:Pengayuh Becak Lulus S1 dengan IPK 3,01


January 03, 2009

Sumber: SuaraMerdeka

Teman-teman, ini aku kirimkan artikel dari sebuah portal pendidikan yang semoga dapat menginspirasi kita sebagai mahasiswa untuk lebih giat belajar meski hidup di tengah keterbatasan.

Sehari-hari Wawan Kurniawan (28) hanyalah seorang pengayuh becak. Namun siapa sangka pria yang biasa mangkal di depan kantor pos Purworejo itu adalah seorang mahasiswa berprestasi. Sabtu (8/11), dia diwisuda dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,01.

Meski profesinya hanya tukang becak dengan pendapatan pas-pasan dan bahkan sehari-hari penghasilannya sering tidak bisa dipastikan, Wawan Kurniawan tetap punya prinsip dan slogan dalam hidupnya. ’’Optimistis dan jangan pernah menyerah tanpa usaha,’’ tandas warga RT 3 RW 8, Baledono Krajan, Purworejo itu.

Ya, dengan semangat itulah, dia berhasil meraih cita-citanya menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurut dia, pengayuh becak hanyalah profesi. Dan, dia mengaku tidak malu menyandang profesi itu. Apalagi sejak kelas satu SMA dia memang sudah mengayuh becak.

Setiap hari, pukul 05.00-pukul 17.00, pria yang lahir di Purworejo 24 Desember 1980 itu mangkal di depan kantor pos Purworejo. Sabtu (8/11), mahasiswa Fakultas Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) ini diwisuda dengan IPK 3,01. IPK tersebut tertinggi di fakultasnya.

Kemarin, dia sibuk mengurus ijazahnya karena akan digunakan untuk mendaftar CPNS di Pemkab Purworejo. Meski ada keinginan menjadi pegawai negeri, dia tetap masih punya niat melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta.

Bagaimana dengan becaknya? ’’Ya, itu tetap akan saya pertahankan. Saya akan jadi pengayuh becak di Yogya,’’ katanya.

Bagi dia, becak yang dipakai saat ini punya nilai sejarah tersendiri. Becak itu semula adalah milik kakaknya. Namun becak itu kemudian menganggur karena kakaknya masuk pesantren. Sejak tahun 1997, becak dia pakai untuk mencari nafkah. Tempat mangkal favorit adalah di depan kantor pos Purworejo.

Dia mengungkapkan, penghasilan sebagai tukang becak ada pasang surutnya. Terkadang dalam sehari dia tidak mendapat uang sama sekali. Akan tetapi menjelang Lebaran lalu, Wawan pernah mendapat uang Rp 100 ribu/hari.

Hasil jerih payahnya itu, sebagian dimanfaatkan untuk membayar uang kuliah, meski dia sadar seringkali penghasilannya masih kurang untuk biaya di perguruan tinggi. Seingat dia, pada tahun pertama membayar Rp 2 juta. Selanjutnya untuk biaya per semester Rp 750 ribu. ’’Ya, kalau kurang, saya pinjam teman,’’ tuturnya.

Giat Belajar

Untuk bisa belajar sambil bekerja, dia berusaha membagi waktu. Bila ada jam kuliah, dia berusaha masuk. Setelah itu kembali ke pangkalan becak. Kapan belajar? Menurut Wawan, belajar biasa dilakukan pada malam hari. Dia juga biasa membawa buku-buku kuliah di laci becak. Bila sedang tidak ada penumpang, dia memanfaatkannya untuk belajar. ’’Dulu pas ramai judi togel saya pernah dikira sedang meramal nomor. Padahal sedang belajar,’’ ujarnya.

Selama menjadi tukang becak, kata dia, tentu ada suka dan dukanya. Dia sering mengantar teman sekampus atau dosen, namun Wawan mengaku tidak malu melakukannya.

Dia juga pernah diberi uang Rp 170 ribu dari seorang warga Ngombol, Purworejo yang kini di Jakarta. Mulanya orang yang mengaku pensiunan polisi itu minta diantar dari Hotel Bagelen ke masjid di alun-alun. Ketika penumpang bertanya status dan pendidikan, dia jawab masih kuliah di UMP.

Mungkin karena merasa kasihan, penumpang menyodorkan uang Rp 20 ribu. Keesokan harinya, dia ngobrol lagi dengan penumpang itu. Wawan pun diberi uang Rp 50 ribu untuk biaya kuliah. Beberapa saat setelah itu, orang yang sama menyempatkan datang ke rumahnya dan memberikan uang Rp 100 ribu.

Tentang dukanya, menurut Wawan, dirinya pernah diminta mengantar seorang wanita ke Pasar Baledono, Purworejo. Sesampai di tempat tujuan, penumpang itu turun dan dia diminta menunggu. ’’Eh ternyata tidak nongol lagi,’’ ungkap anak ke-4 pasangan Ambari dan Chamidah itu.

Meski lahir dari keluarga kurang mampu, karena ayah dan ibunya hanya berjualan es tape di alun-alun dan di rumah, semangat Wawan perlu ditiru. (Eko Priyono-46)

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

Membimbing Anak Usia Dini menjadi Berprestasi

Kamis, 11 Desember 2008 22:11:31

Oleh ENDANG SISWATI *)

Anak, pada dasarnya, belum mampu mandiri, masih sangat labil, egosentris dan belum tahu apa itu prestasi. Anak juga tidak tahu akan kelebihan dan kekurangannya. Maka diharapkan orangtua, guru, pengasuh, anggota keluarga di sekitarnya yang dapat menyikapi hal-hal yang dialami anak dalam tumbuh kembang pada usia dini, sehingga kelebihan dan kekurangan tersebut terbimbing. Sudahkah sikap dan tindakan orang dewasa berfihak pada anak? Atau justru anak berprestasi karena korban ambisi orang dewasa? Hal ini yang harus menjadi perhatian sebagai filter dan penyelesaian yang berfihak pada hak anak. Anak berprestasi karena potensi yang dimiliki direspon orang dewasa, atau anak tidak berpotensi namun dan berusaha berprestasi, maka kewajiban orang dewasa untuk membantu dan membimbing.

Prestasi secara umum adalah anak yang mampu belajar, mengatasi masalah pengelolaan emosional, sosialisasi, dan kemandirian. Prestasi dalam hal khusus adalah keberhasilan meraih kejuaraan dalam mengikuti lomba/ajang kompetisi yang diadakan Sekolah, Dinas Pendidikan, Lembaga/instansi lain maupun Perusahaan. Tulisan berikut adalah sepenggal pengalaman memberikan pengajaran untuk meraih prestasi secara umum maupun khusus. Penulis berkeyakinan bahwa terdapat sebuah benang merah dalam hal pemberlakuan metode ajar dalam pencapaian prestasi siswa, yaitu pemahaman menyeluruh oleh guru sebagai pengajar mengenai manajemen pembelajaran. Terkait dengan capaian prestasi dan proses yang menyertainya, pembahasan yang disajikan lebih dititik beratkan pada tema membangun motivasi belajar siswa.

Sertain, dalam bukunya Psychologi Understanding of Human Behaviour Motif, menyatakan motif sebagai pernyataan yang kompleks didalam organisme yang mengarahkan tingkah laku atau perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang. Sedangkan Duncan, ahli administrasi berpendapat dalam konsep menejemen motivasi berarti setiap usaha yang didasari untuk mempengaruhi perilaku seseorang agar meningkatkan kemampuannya secara maksimal untuk mencapai tujuan organisasi. Divisi secara umum motivasi adalah suatu usaha yang didasari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan suatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motif dibedakan menjadi dua macam yakni motif  intinsik dan motif ekstrinsik. Disebut motif intrinsik jika yang mendorong untuk bertindak ialah nilai-nilai yang terkandung di dalam obyek itu diri sendiri.

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan sehari-hari banyak didorong oleh motif ekstrinsik yakni yang mendorong untuk bertindak adalah obyek itu dari luar diri seseorang/anak.
Interaksi antara cara mengajar guru dengan anak berpengaruh pada hasil belajar. Cara mengajar guru yang menarik akan menantang siswa untuk berpikir dan berperan aktif sehingga akan mempengaruhi motivasi siswa secara positif. Penelitian menyatakan motivasi intrinsik merupakan multi konsep dari minat, persepsi, dan ketahanan belajar. Motivasi murni bersifat efektif/ berkaitan dengan perasaan seseorang. Menurut Ames dan Archer mengubah motivasi berarti mengubah cara berpikir anak, memahami tujuan dan pembelajaran, serta melihat proses hasil pembelajaran dengan cara yang berbeda.

Tugas guru adalah membangkitkan dan membangun motivasi intrinsik yang sifatnya lebih karena kesadaran dan kemauan yang timbul dalam diri anak. Menghargai dan memberi kesempatan pada anak untuk banyak mengungkapkan celotehnya, dan eksplorasi sikap perilaku yang disikapi guru dengan pengarahan tutur kata serta tindakan sesuai tahap perkembangan anak.
Bagaimanapun, disekolah guru adalah satu-satunya motivator bagi anak. Segala ucapan dan tindakan guru menempatkannya sebagai malaikat dalam pola pikir anak. Kasih sayang, ketulusan, dan keikhlasan dalam membimbing sangat dirasakan pribadi anak.

Pemberian motivasi pada anak pada tahap awal bisa diberikan melalui tutur kata sapaan dan pujian. Langkah ini sangat penting bagi anak untuk merasakan keberadaannya dihargai. Sentuhan fisik seperti berjabat tangan, dan tepuk tangan untuk apapun yang berhasil anak lakukan juga tidak kalah pentingnya. Guru, dalam aktivitas anak, seberapapun kerepotan yang muncul, juga harus bisa memposisikan anak sebagai pribadi yang mampu.

Sedangkan sebagai inti dari komunikasi verbal adalah, melakukan kontak mata dengan pandangan melindungi serta memberikan ketenangan. Sedangkan pada sisi guru, dua model motivasi tersebut juga harus teraplikasi dalam bentuk komitmen keterbukaan terhadap kritik. Guru harus membuang jauh rasa segan bertanya pada figur yang profesional atau memiliki kompetesensi dibidangnya.

Setelahnya guru harus sanggup membentuk team work disekolah dan menjalin dukungan total dari orang tua. Dengan pemahaman manajemen pembelajaran motivasi seperti itu, capaian prestasi anak tidak akan lagi menjadi idaman belaka. (*)

*)  Guru TK Petra Kota Kediri

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Manajemen Pembelajaran

Belajar Mewujudkan Mimpi sejak Belia

Sabtu, 3 Januari 2009 | 07:41 WIB

Oleh Nur Hidayati

Sumber : Kompas Cetak


”Suatu hari nanti aku akan membangun perusahaan penerbangan sendiri,” ujar Ridwan Zulfikar (15), siswa kelas III Madrasah Pembangunan Universitas Islam Negeri Jakarta.

Zulfikar tahu benar, jalan yang harus ditempuh untuk membangun perusahaan sendiri bakal panjang, tetapi ia yakin telah merintis jalan itu.

Sejak duduk di kelas I sekolah menengah pertama, Zul—demikian Zulfikar biasa dipanggil teman-temannya—bergabung dalam program perusahaan sekolah yang diperkenalkan Prestasi Junior Indonesia (PJI).

Jabatan Presiden Direktur Empire Student Company, begitu nama perusahaan sekolah ini, baru dilepas Zulfikar pekan lalu untuk persiapan Ujian Nasional 2009.

Zul dan kawan-kawannya mengelola perusahaan sekolah dengan modal awal Rp 250.000. Modal ini mereka dapat dari penjualan 25 lembar saham secara sukarela kepada guru dan siswa.

Masa kerja tim manajemen perusahaan sekolah ini selama satu tahun. Pada akhir masa kerja, perusahaan dilikuidasi, laba dibagi kepada pemegang saham, kemudian dibentuk lagi perusahaan baru dengan tim manajemen yang terdiri atas siswa-siswa baru pula.

”Dalam beberapa bulan operasional, perusahaan sekarang punya uang Rp 2.281.850, dengan laba bersih lebih dari satu juta rupiah,” ujar Zul.

Bukan nilai nominal itu yang menarik perhatian. Namun, kiprah siswa-siswa ini mengelola modal ternyata memberi mereka inspirasi untuk menjadi wirausaha.

Beragam kegiatan mereka lakukan, mulai dari berjualan cokelat buatan kerabat, menjual minuman pada jam istirahat di kelas-kelas di lantai atas yang cukup jauh dari kantin, hingga menyewakan alat makan dan sandal jepit untuk shalat bersama di sekolah.

Kegiatan paling seru tentu menggelar dagangan pada acara bazar, termasuk di pusat perbelanjaan.

”Sebagian barang kami jual dengan konsinyasi, kalau enggak laku dikembalikan. Ada juga yang kami beli putus. Rata-rata jualan harian atau bazar laku banget. Yang lambat perkembangannya tuh penyewaan sandal jepit,” ujar Lisky Nui (14), salah satu manajer di Empire Student Company.

Siswa-siswa ini juga belajar berbisnis di lingkungan yang lebih luas dari sekolah. Empire, misalnya, pernah berdagang barang kerajinan dengan 2K6 Student Company dari Ohio, Amerika Serikat, melalui internet.

Pada akhir masa jabatannya, mereka juga membuat evaluasi bisnis. ”Perusahaan sekolah ini perlu lebih banyak mengikuti bazar, bukan hanya saat pameran pelajar, ulang tahun sekolah, atau penerimaan rapor,” ujar Lisky Nui.

Tahun depan, di sekolah menengah atas, Zulfikar sudah membayangkan tahapan berikut untuk memperkaya pengalamannya berbisnis.

”Di SMA nanti, aku akan ikut jualan multilevel marketing. Ada banyak perusahaan seperti itu yang modal awalnya enggak besar dan jualannya jelas. Kalau enggak cocok di satu perusahaan bisa ganti yang lain. Yang penting bisa sekolah sambil jualan,” ujarnya.

Transformasi

Perusahaan sekolah bukan hanya ada di Madrasah Pembangunan. Lebih dari 70 sekolah di berbagai daerah di Indonesia saat ini mengikuti program yang dipromosikan PJI ini. PJI merupakan lembaga nonprofit yang berafiliasi dengan jaringan global Junior Achievement.

Program pendidikan kewirausahaan ini ditujukan untuk siswa dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, tentu dengan model yang berbeda-beda.

”Pendidikan kewirausahaan perlu dipelajari dari kanak-kanak. Di situ ada nilai kejujuran, inisiatif, kepercayaan diri, kemampuan memimpin, dan bekerja sama yang ditanamkan,” ujar Direktur Eksekutif PJI Marzuki Darusman.

Marzuki mencontohkan, perusahaan sekolah memunculkan transformasi diri bagi siswa-siswa sekolah menengah di Kutai Timur, Kalimantan Timur, misalnya, ketika mereka bisa menjual dodol salak kepada siswa sekolah menengah di Boston, AS.

Ada juga siswa sekolah yang memenangi kompetisi penyusunan rencana bisnis di Dublin, Irlandia.

Pelajaran berbisnis sejak belia bukanlah ”promosi” materialistis. Kewirausahaan justru mendorong seseorang menggali potensi diri dan lingkungannya serta berani berkreasi mengembangkan potensi itu.

Kemampuan tersebut bukan saja berguna bagi kalangan pebisnis. Kalangan birokrat juga perlu memiliki jiwa kewirausahaan agar ekonomi negara bisa maju tanpa korupsi.

Mei 30, 2009 Posted by | Manajemen Pembelajaran | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.